Jakarta, Parmagz – Pada Sabtu pagi, 30 Maret 2019 lalu, saya beserta rombongan dari Yayasan Sahabat Anak Manggarai tengah melaksanakan kegiatan Walking Tour ke berbagai rumah ibadah atau tempat peribadatan. Kunjungan ini adalah salah satu dari rangkaian acara Jambore Sahabat Anak yang tahun ini mengangkat tema “Kita Sama, Kita Indonesia”.

Sebelum saya bercerita tentang keseruan acara Jambore ini, saya ingin mengenalkan sedikit tentang Yayasan Sahabat Anak Manggarai. Sahabat Anak adalah yayasan perlindungan anak yang digerakan oleh para relawan, memiliki tujuan untuk memperjuangkan terpenuhinya hak-hak anak, khususnya anak-anak marjinal dengan memberikan akses pendidikan gratis pada mereka. Yayasan Sahabat Anak pertama kali mengadakan jambore pada pertama kali pada 23 Juli 1997, bertepatan dengan Hari Anak Nasional. Saat itu jambore ini masih bernama Jambore Anak Jalanan (JAJ).

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2005, JAJ bertranformasi menjadi JSA (Jambore Sahabat Anak), dan masih terus berjalan hingga hari ini. Yayasan yang saat ini diketuai oleh Dian Novita ini mempunyai beberapa program, di antaranya adalah Sekolah Non-Formal, Paud, Kesehatan, Sahabat Anak Day (HAS), Sahabat Anak Jambore (JSA) dan Bimbingan Belajar yang tersebar dibeberapa wilayah DKI Jakarta.

Dalam kegiatan JSA anak-anak binaan diajak untuk berkemah selama 2 hari penuh. Sesuai dengan tema JSA tahun ini, salah satu aktivitas utama yang dilakukan dalam JSA 2019 ialah mengajak anak-anak untuk berkeliling ke berbagai tempat ibadah yang berada di Jakarta. Tujuannya adalah agar anak-anak binaan ini, bisa menyelami dan belajar langsung tentang perbedaan dan toleransi dari berbagai tempat ibadah masing-masing agama.

Kami berkumpul di Masjid Istiqlal, di sana sudah hadir juga teman-teman dari Sahabat Anak berbagai wilayah lainnya. Sebelum berkeliling, terlebih dahulu kami menyantap sarapan, setelah itu tepat pukul 07:30 WIB baru bus rombongan membawa kami ke sebuah tempat peribadatan peninggalam zaman kolonial, gereja Pniel atau yang sering disebut sebagai gereja Ayam. Bukan tanpa alasan gereja Protestan Pniel yang berusia 104 tahun ini disebut gereja Ayam, hal itu karena gereja Pniel memakai lambang utama mata angin berbentuk ayam pada puncak atapnya.

Meski sudah berusia 104 tahun, gereja yang dirancang oleh Ed Cuypers dan Hulswit ini hingga sekarang masih terurus dengan baik. Misal saja perabotan dan benda-benda bersejarah dalam Gereja Pniel masih terawat dengan baik, seperti bangku-bangku yang ada di dalam gereja.

Namun sayangnya, saat kami berkunjung, gereja tengah digunakan untuk sebuah acara, sehingga kami tidak bisa masuk ke dalamnya. Meski demikian, kami tetap bisa melihat dan mengamati apa yang ada di dalam dari luar gereja.

Setelah puas melihat keindahan bangunan serta mengetahui sejarah gereja Pniel, kami berjalan ke Pasar Baru untuk mengunjungi tempat ibadah umat Buddha bersejarah, klenteng atau wihara Sin Tek Bio. Jakarta yang pada zaman penjajahan Belanda bernama Batavia, hanya boleh dihuni oleh orang kaya dan para pedagang saja. Sedangkan orang miskin, harus tinggal di luar area kota. Area Pasar Baru yang merupakan pinggiran kota Batavia ini banyak dihuni oleh penduduk Tionghoa miskin yang bekerja sebagai petani. Klenteng Sin Tek Bio berdiri bersamaan dengan banyaknya petani-petani Tionghoa yang tinggal di sekitar kebun Chastelein pada masa itu.

Lokasi klenteng yang berada di pusat perdagangan ini diharapkan bisa menjadi penetralisir hawa negatif kegiatan di pasar. Saat melihat klenteng ini dari luar, adik-adik binaan Sahabat Anak sangat antusias, karena mereka tidak pernah melihat klenteng sebelumnya, banyaknya lilin yang menyala di dalam klenteng, berhasil menarik perhatian mereka. Apalagi ada lilin yang berukuran sangat besar. Selain itu di bagian atas banyak dihiasi lampion merah yang melambangkan cinta kasih bagi Panji Buddhis Enam Warna atau Sadvarna Dvhaja ini. Namun, karena banyaknya lilin ini, membuat suhu dalam wihara terasa cukup panas.

Setelah mendengarkan penjelasan tentang sejarah klenteng ini, kami segera bergegas menuju ke tempat peribadatan selanjutnya, yaitu Kuil Haree Krishna yang berada di selatan Pasar Baru. Kuil ini terlihat seperti rumah pada umumnya karena juga merupakan semacam asrama untuk para penganut kepercayaan ini.

Kuil Haree Krishna berada di bawah naungan Masyarakat Kesadaran Krishna Internasional yang didirikan pada 1966 oleh Srila AC Bhaktivendata Swami Prabhupada di Amerika Serikat. Kepercayaan ini berkembang di Indonesia sejak 1980. Proses ibadah aliran ini disebut meditasi. Meditasi dilakukan dengan cara menyanyi bersama-sama (kirtana) diiringi dengan alat musik.

Dari kanan ke kiri, Balaram, Subrada, dan Baladewa, semuanya tampak tersenyum lebar dengan mata yang membulat sempurna.

Tampak suasana di dalam kuil berbeda dengan kebanyakan kuil, di sini patung yang terlihat justru sangat menarik. Menurut pendeta yang menjelaskan pada kami, patung yang ada di depan menggambarkan Sri Krishna sebagai perwujudan yang paling baik atau sebuah kebahagiaan dan rasa syukur yang sangat besar. Pendeta juga menjelaskan pada kami bahwa Sri Krishna menjadi personalitas tertinggi Tuhan di dunia.

Setelah diberi  penjelasan yang cukup, kami langsung bertolak menuju gereja Katedral. Gereja yang memiliki nama resmi Gereja Santa Maria Pelindung Diangkat ke Surga ini diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neogotik ala Eropa. Arsitektur tersebut banyak digunakan untuk membangun gedung gereja pada beberapa abad silam.

Bangunan gereja Katedral yang tampak sekarang ini bukan merupakan bangunan gereja yang asli. Pada tahun 1826, gedung gereja ini terbakar bersama 180 rumah penduduk yang ada di sekitarnya. Gereja pun kemudian dibangun kembali dan memiliki bentuk bangunan mmegah yang kita lihat saat ini.

Menurut humas yang mengelola Gereja Katedral ini, bangunan gereja ini sendiri, adalah bagian dari museum, selain memang ada museum yang berada di samping gereja. Oleh karena itu, banyak orang dating hanya untuk melihat keindahan arsitektur yang ada pada bangunan gereja ini. Gereja Katedral ini adalah warisan kebudayaan yang harus dijaga bersama.

Di dalam gereja terdapat banyak lukisan dan juga patung yang berciri khas Indonesia. Seperti misalnya patung Bunda Maria yang tampak anggun dengan kebaya batik berwarna putih yang dikenakannya.

Dan destinasi terakhir kami adalah masjid Istiqlal yang merupakan salah satu Masjid terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Masjid yang letaknya berhadap-hadapan dengan gereja Katedral ini, memiliki 5 lantai, dengan diameter kubah 45 meter, dan ditopang oleh 12 tiang besar. Istiqlal dalam bahasa Arab berarti “merdeka”. Hal uniknya adalah, masjid ini dirancang oleh seorang arsitek beragama Kristen Protestan bernama Frederich Silaban. Di dalam masjid, ada bedug yang besar. Bedug yang ada di Istiqlal berasal dari India dan China.

Bisa terlihat bagaimana megahnya masjid yang dikelilingi oleh 12 tiang besar dengan kubah bercat emas ini. Masjid Istiqlal tidak pernah sepi pengunjung, tidak hanya dari berbagai daerah, banyak juga wisatawan dari berbagai negara datang ke mari. Keindahan juga tampak dari lorong-lorong Masjid yang sangat luas, kita juga bisa melihat indahnya bangunan gereja Katedral dari samping bangunan Masjid.

Nah, dari perjalanan kali ini saya mendapatkan banyak pelajaran. Terutama tentang toleransi yang rupanya sangat indah. Melihat keberagaman yang ada di Indonesia membuat saya sadar bahwa kita tidak sendiri di dunia ini. Ada banyak perbedaan yang membuat Indonesia menjadi “kita”. Walau banyak sekali bermacam-macam suku, agama, dan ras yang ada di bangsa ini, tapi kita tetap sama karena kita Indonesia. Tema yang diangkat pada JSA kali ini sangat tepat menggambarkan apa yang saya rasakan.

Mari kita mengahargai setiap perbedaan yang ada di sekitar kita. Bukan berarti karena orang lain berbeda, kemudian mereka secara otomatis menjadi salah. Sebab itu, kita tidak boleh meyakini bahwa kitalah yang paling dan selalu benar. Semua itu hanya sudut pandang, dan yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menghargai perbedaan. Dari sini saya meyakini, bahwa pendidikan toleransi harus segera diajarkan dan digerakkan sejak dini. Agar adik-adik dan anak-anak kita kelak memahami, bahwa ada keindahan pada setiap perbedaan. (dea/nur)

 

Penulis: Dea Saraswati

Editor: Nurma Syelin Komala

Bagikan:
61