Jakarta, Parmagz – Kamu tau nggak? Ternyata perilaku shaming ada banyak jenisnya. Mulai dari body shaming, yang mana korban dicemooh berdasarkan bentuk fisiknya, semisal, “buset itu badan apa Dugong?”, “ih mba kok kurus, penyakitan ya?” atau tipe shaming yang masuk ke ranah identitas seseorang seperti warna kulit, ras atau lainnya. Bahkan ada istilah singledom shaming loh, korban-korban yang dicemooh biasanya karena mereka memilih hidup nyaman tanpa pasangan, korban singledom ini lebih banyak ditujukan pada wanita yang distigma punya ‘batasan kesuburan’ dalam siklus hidupnya, misalnya ucapan, “mbak, cepetan nikah dong nanti keburu rapet tuh, hehe”, dan beragam ucapan menjijikan lainnya. Lagi pula, emang tujuan nikah sekadar buat punya anak aja? Hidup di era teknologi yang serba cepat dan tanpa sekat ini, bukan berarti kamu bisa menilai dan mengatur hidup orang berdasarkan titik pijak perspektifmu sendiri loh. Coba-coba buat ngubah prespektif seseorang berdasar nilai yang kamu pegang karena ngerasa itu yang paling benar? Nggak banget deh.

Nah, tipe shaming yang mau saya bahas ini sebetulnya udah pernah saya alami sendiri, bahkan sejak remaja, sekitar umur 12 tahun. Tapi baru saya ketahui bahwa apa yang saya alami itu perilaku shaming baru di awal tahun ini. Tepatnya ketika Twitter sempat ramai karena cuitan akun @disseduh yang membandingkan para penggemar pembaca buku Tere Liye dan Pramoedya Ananta Toer dengan nada mencemooh, “Anak milenial lebih mengenal fiersa besari, tere liye dan sejenisnya.. Dibanding Pramoedya Ananta Toer dan Chairil Anwar. :).” Lantas cuitannya ini dibalas oleh @FiersaBesari, “Saya malah lebih sedih sama admin yang kehilangan substansi. Seolah, membaca Fiersa adalah dosa dan membaca Pram auto suci. Seolah, semua milenial yang membaca Tere Liye tak tahu Chairil Anwar. Sudah menggeneralisir, ageisme pula. Membuktikan, admin tak cukup banyak membaca buku,” ungkapnya pada 6 Februari 2019.

Penggalan cerita di atas adalah contoh dari book shaming yang saya alami tersebut, ia merupakan perilaku perisakan secara verbal yang dilakukan beberapa orang berdasarkan genre bacaan, penulis buku sampai ketenaran buku yang dibaca oleh orang lain dengan menganggap buku yang dibaca orang lain itu lebih ecek-ecek atau nggak selevel dengan bacaan standar bacaan si perisak yang di anggap lebih tinggi. Sikap ini bagi saya sangat miris, karena seorang penggemar buku yang hobi menghabiskan waktunya demi lembaran-lembaran kertas nan bermakna itu, seharusnya lebih bisa bersikap open minded dan toleran terhadap selera bacaan orang lain, dan seharusnya toleransi itu nggak hanya berlaku di ranah buku saja, tapi, dalam ranah interaksi sosial juga. Tanpa disadari pelaku book shaming ini telah menghancurkan rasa kepercayaan diri korbannya tersebut atas selera bacanya.

Baca juga:  5 Teladan yang Harus Ditumbuhkan untuk Menjadi Kartini Masa Kini

Rasa ketidakpercayaan diri karena perisakanan verbal ini, sekali lagi pernah saya alami saat saya menjadi salah satu dari jutaan remaja di dunia penyuka novel The Twilight Saga karya Stephenie Meyer, nggak terhitung berapa banyak hujatan yang kami terima. Menjadi lebih tertutup atas buku yang dianggap sebagai “buku bodoh”, jujur buat saya super minder, karena stigma yang dibangun seakan-akan para remaja perempuan yang membaca Twilight sebagai “buku bodoh” ini secara nggak langsung jadi menyerang kami para pembaca, yang seakan-akan dalam waktu yang sama juga ikutan dituding menjadi “remaja bodoh”.

Twilight is stupid” seperti jadi sebuah jargon baru yang masih banyak digunakan saat ini dalam beberapa topik bahsan di dunia maya.  Saya akui kok, kalau novel The Twilight Saga ini emang nggak punya nilai moral sebagus Harry Potter tanamkan, bukan buku dengan karakter setanggung Katniss Everdeen di Hunger Games. Bukan juga buku dengan segudang kata-kata mutiara pembangun motivasi hidup layaknya karya Paulo Coelho, The Alchemist. Tapi, tetap buku ini punya tempat yang spesial bagi saya. Karena pertemuan saya dan dunia Twilight yang diawali dengan di traktir nonton film Eclipse (2010) oleh teman yang lagi ulang tahun, berlanjut dengan saya yang akhirnya penasaran untuk baca koleksi buku The Twilight Saga. Perjumpaan itu jadi gerbang bagi saya untuk membaca buku lebih banyak lagi.

Nggak semua orang punya habit membaca sejak kecil loh. Dan nggak semua orang juga bisa suka buku Pramoedya Ananta Toer atau Yuval Noah Harari sebagai buku ‘keren’ pertama kali buat mereka yang baru mencoba membaca buku.  Bisa-bisa bukannya suka mungkin malah gumoh di sepuluh halaman pertama. Ada beberapa dari mereka yang akhirnya baru bisa membaca buku karena ada sebuah buku yang cocok dan setelahnya buku itu jadi gerbang bagi mereka untuk baca buku lagi setelahnya. Seperti kutipan lata Duta Baca Buku Indonesia kita, Najwa Shihab, “cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cari buku itu, mari jatuh cinta”.

Baca juga:  5 Teladan yang Harus Ditumbuhkan untuk Menjadi Kartini Masa Kini

Book shaming ini juga seharusnya dihilangkan dari Indonesia yang masih dalam urutan negara dengan minat baca paling rendah dalam berbagai riset. Seperti menurut riset  CCSU (Central Connecticut State University) tahun 2016, minat baca orang Indonesia di urutan ke 60 di atas Botswana yang menduduki peringkat ke 61 atau dari data Perpustakaan Nasional di tahun 2017 yang mana frekuensi buku yang dibaca orang Indonesia hanya lima hingga sembilan buku per tahun. Jelas jauh dengan negara-negara minat baca tertinggi yang rata-rata membaca 50-60 buku dalam setahun.

Semua harus ada prosesnya, bahkan membaca pun harus butuh latihan. Tengok aja Howard Berg, seseorang yang berhasil mendapatkan rekor Guiness Book of World Records sebagai pembaca tercepat dengan kemampuan membaca 80 halaman per menit pada tahun 1990 (rekornya masih belum terpecahkan hingga saat ini). Berg pun harus belajar caranya membaca, “membaca adalah sebuah ketrampilan yang dapat dipelajari seseorang. Itulah kenapa aku melakukan ini,” katanya dalam sebuah wawancara.

Nah buat kamu yang udah pernah melahap semua buku Pramoedya, Tolkien atau sekalipun baca buku Seratus Tahun Kesunyian-nya Gabriel Garcia Marquez, jangan justru jadi pelaku book shaming ya. Karena harus kita akui, ada beberapa orang baru mulai suka dengan buku dengan membaca Kamasurta, novel-novel bergenre horor dan banyak orang lainnya yang mungkin lebih memilih untuk mulai suka membaca lewat puluhan komik atau tulisan-tulisan fanfiction Wattpad yang 18+, dibandingkan dengan buku serial Harry Potter. Tetap saja, kita nggak bisa merampas hak kebebasan setiap manusia terhadap bacaan buku yang mereka pilih. Bagaimana kamu bisa mendaku sebagai penggiat literasi kalau kamu belum memahami inti makna dari literasi, bahwa membaca adalah sebentuk pembebasan bagi manusia.

Bagikan:
149