Jakarta, Parmagz—Ibu kita kartini putri sejati putri indonesia harum namanya. Siapa sih yang gak tahu lagu Ibu Kita Kartini ciptaan W.R. Supratman ini. Dikala menyanyikan salah satu lagu nasional, mungkin lagu tersebut jadi playlist para siswa baik SD, SMP dan SMA saat agenda upacara setiap hari Senin. Atau mungkin lagu Ibu Kita Kartini juga jadi salah satu playlist di Spotify para mahasiswa Parmad yang rindu masa-masa jadi siswa-tanpa deadline e-learning atau proposal dan FPD?  

Bernama lengkap Raden Adjeng Kartini yang lahir dari keluarga darah biru tak membuat Kartini lelap dalam kenyamanan atap rumahnya. Ayahnya Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang saat itu seorang Wedana (kepala wilayah administrasi kepemerintahan antara kabupaten dan kecamatan) ingin menjadi seorang bupati dikala peraturan kolonial Belanda mengharuskannya menikahi seorang bangsawan. Alhasil M. A. Ngasirah, ibu Kartini yang bukan berasal dari bangsawan kelas atas harus menerima suaminya menikahi seorang perempuan yang memiliki garis keturunan langsung dengan Raja Madura, yakni dengan Raden Adjeng Woerjan. Woerjan berstatus istri utama sedangkan status Ngasiran menjadi istri pertama dari Raden Mas.

Kartini yang seorang perempuan dan anak dari istri pertama seorang bupati mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan di ELS (Europeesche Lagere School), sekolah dasar yang diperuntukan untuk kalangan priayi, yangmana bahasa Belanda diwajibkan dalam kurikulum pendidikan ELS. Bahasa Belanda yang dikuasai Kartini ini mengantarkan dirinya untuk dapat bercengkrama dengan Estella Zeehandelar, sahabat pena Kartini dari Belanda yang merupakan seorang aktivis perempuan, sosialisme, dan pegiat HAM di Negeri Kincir Angin tersebut. 

Kartini bagi bangsa Indonesia tak lain menjadi suatu simbol dari emansipasi wanita Indonesia. Perjuangannya yang besar untuk kaum wanita ini lantas membuatnya dihormati dengan dibuatnya hari nasional khusus loh, yakni Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April. Presiden Soekarno pada tanggal 2 Mei 1964 mengeluarkan Keputusan Presiden RI No.108 Tahun 1964 yang juga menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional. Kartini sudah selayaknya menjadi inspirasi bagi para perempuan Indonesia yang berjuang untuk diri dan bangsanya.

Kartini juga menjadi inspirasi bagi tokoh bangsa, misalnya saja seorang sastrawan terkenal indonesia, Pramoedya Ananta Toer yang telah menulis buku berisikan pemikiran-pemikiran Kartini yang dia beri judul Panggil Aku Kartini saja (2003). Kehebatan Kartini juga diakui oleh Sitisoemandari Soeroto yang mengungkapkan bahwa Kartini menduduki tempat khusus dalam Sejarah Indonesia Modern, yakni sebagai Ibu Nasionalisme. Wah, hebat benar rupanya sosok Kartini ini ya.

Tak hanya sosok Kartini yang menjadi ‘Kartini’ namun banyak teladan-teladan Kartini lainnya yang telah lahir memberikan kontribusi besar baik untuk lingkungan sekitar maupun negaranya.  Mungkin kamu salah satunya. 

Nah, gimana sih menjadi Kartini di masa kini? Simak 5 rangkuman teladan yang harus kamu miliki:

1. Memperkaya Literasi

Yang pertama harus kita lakukan adalah literasi alias membaca. Kenapa sih membaca itu penting? Membaca itu sangat penting untuk menambah wawasan dan pengetahuan kita. Bahkan cara kita berbicara di depan umum dapat menggambarkan seberapa sering sih kita membaca. Dengan membaca kita juga dapat membuka pikiran kita akan hal-hal baru, yang membuat kita nggak terpaku dengan hal-hal yang mainstream. Dalam segala aspek kehidupan membaca itu yang paling penting. Bahkan ada pepatan yang berkata ‘membaca adalah jendela dunia’ dengan membaca kita bisa melihat apa yang tidak dapat dijangkau jarak dan waktu. Ayo membaca deh mulai sekarang.

2. Berani Bersuara

Berani bersuara yang dimaksud ialah berani untuk menyampaikan pendapat kamu dalam berbagai platform. Kartini mungkin menjadi sosok yang tidak akan dikenal seperti sekarang jika dirinya nggak berani bersuara tentang emansipasi wanita. Selain punya kesadaran tentang emansipasi, Kartini juga berani bersuara tentang emansipasi itu sendiri. Nyatanya berbicara itu merupakan salah satu cara membuka dunia. Tapi, jangan lupa bila kita ingin berbicara di depan umum kita harus menggunakan kosa kata bahasa yang baik dan  santun. Ini juga salah satu guna membaca, semakin banyak membaca semakin banyak kosa kata yang kita dapat maka perkataan yang kita ucapkan akan semakin berkualitas nantinya.

3. Berpikir Positif Serta Inklusif

Ini juga nggak kalah pentingnya, berpikir positif dan inklusif memang semestinya ada di setiap individu, baik perempuan dan laki-laki. Karena berpikir positif membuat kita tidak terpengaruh perkataan orang lain. Dan berpikiran inklusif atau terbuka membuat diri kita siap untuk menerima segala keberagaman di dunia ini tanpa penilaian satu perspektif yang subjektif.

Contoh realitas pentingnya berpikir positif, yakni maraknya cyber bullying, body shaming dan perilaku individu yang mencemooh dan menilai karakter seseorang lewat sosial media. Jika kita ingin maju kita harus berpikiran positif serta inklusif dan mempunyai mental yang kuat, itu salah satu cara menjadi Kartini masa kini. Kartini pun dulu juga ditentang loh untuk menyampaikan apa yang ia pikirkan hanya karena dirinya seorang perempuan. Namun karena ia berpikiran positif dan terbuka, maka ia tidak meragukan langkahnya dalam menyuarakan isi pikirannya. Seperti kata Kartini dalam bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang, “banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi, satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.”

4. Mencintai diri sendiri

Kamu juga harus nih mencintai diri kamu sendiri, kita sebagai manusia sudah sewajarnya membuat kesalahan. Namun jangan  terpaku akan kesalahan yang kita perbuat, karena hal itu hanya akan menyebabkan tidak berkembangnya diri kita dalam mengolah pikiran. Bagaimana kita dapat memahami orang lain atau keadaan tertentu bila kita tidak dapat memahami diri kita sendiri. Dengan hal itu kita dapat berproses menjadi seseorang yang lebih baik lagi kedepannya.

Mencintai diri sendiri juga dapat dimaknai untuk tidak mudah meremehkan diri kamu sendiri. Karena mungkin kamu masih belum menggunakan potensi atau bakat kamu secara maksimal. Masih ada potensi terpendam yang harus sering kamu galih lagi.

“Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam”, kata Kartini.

5. Bersosialisasi

Ini dia nih yang nggak kalah pentingnya, yaitu bersosialisasi. Kita hidup di dunia ini pastinya tidak dapat menjalaninya bila sendiri. Pentingnya bersosialisasi disini agar kita mengerti bagaimana pandangan orang lain terhadap diri kita agar yang nantinya kita dapat terus memperbaiki diri kita sendiri. Semakin banyak kita bergaul dengan orang yang berbeda latar belakang kita akan semakin banyak belajar dan menambah wawasan. Selain itu kita juga harus menjaga hubungan baik antar rekan dan terbuka akan perubahan serta kritik yang diberikan.

Bersosialisasi juga ada kaitannya dengan membangun relasi loh, apalagi di era digital dengan segudang aplikasi yang buat hubungan individu satu dengan lainnya makin luas. Dengan bersosialisasi dan relasi yang kuat kita dapat diperkenalkan oleh pintu-pintu yang bisa memudahkan jalan kita. Misalnya untuk mencari pekerjaan, berhubungan bisnis, ataupun siapa tahu kamu bisa dapet jodoh dari relasi di dunia digital, hehe

Nah, sudah siapkah kamu untuk jadi Kartini masa kini? Jangan sampai kamu ragu untuk melangkah maju. Karena banyak orang di sekitar kita yang menunggu untuk kamu maju serta berprestasi untuk diri sendiri dan negara. Jangan hiraukan orang-orang yang nyaring bunyinya untuk menghujat serta tidak menghargai kamu sebagai individu. Untuk jadi Kartini ala kamu, jadilah diri sendiri dan terus berbuat baik. Karena kebaikan yang kamu berikan akan membawa kebahagiaan bagi yang menerimanya.

Seperti kata Kartini, “jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba. Jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah lagi untuk menang”.

 

Penulis: Fatimah Rahmawati

Editor: Nurma Syelin

Bagikan:
102