Haruki Murakami adalah penulis Jepang yang namanya telah terkenal di seluruh dunia lewat karya novelnya. Penulis yang lahir pada 12 Januari 1970 ini telah menerbitkan banyak novel yang menjadi bestseller di Jepang maupun global. Beberapa novelnya memenangkan banyak penghargaan bergensi seperti World Fantasy Award,  Frank O’Connor International Short Story Award, Franz Kafka Prize, dan Jerusalem Prize.

Murakami lahir di Prefektur Mushimi, Kyoto, Jepang pada 12 Januari 1970. Murakami tumbuh dengan membaca berbagai karya sastra Barat seperti Franz Kafka, Charles Dickens hingga Gustave Flauberts. Sehingga bisa kita lihat di dalam karya novelnya, kerap kita temukan budaya western yang kental dimasukan Murakami.

Sebelum menulis novel pertamanya, Haruki Murakami mengaku tidak pernah menulis sama sekali. Dia hanyalah seorang manusia biasa yang mengurus kafe jazz bersama dengan istrinya. Namun suatu waktu, Haruki Murakami menonton sebuah pertandingan bisbol, dari menonton pertandingan itu pun ia akhirnya terinspirasi untuk menulis novel pertamanya, Hear the Wind Sing.

Perjalanan Haruki Murakami sebagai novelis pun dimulai dari judul pertamanya itu, yang hingga saat ini dirinya telah menghasilkan berbagai karya yang telah mereformasi dunia sastra Jepang maupun global. Karya-karyanya yang berunsur surealis-realis, serta menceritakan kematian, kehidupan dan kemanusiaan. Menjadikannya salah satu novelis pesohor yang berhasil mendapatkan apresiasi secara global.

Berikut 5 novel Haruki Murakami yang penulis sarankan untuk dibaca di tengah pandemi yang mengharuskan kita di rumah ini!

Novel Pertama Haruki Murakami, Hear the Wind Sing

Novel ini memang tidak terlalu direkomendasikan jika teman-teman ingin mengenal dan memasuki dunia sastra Haruki Murakami untuk pertama kalinya. Karena novel ini tidak memberikan cerita yang bakal memuaskan pembacanya dan sangat anti-klimaks.

Di dalam novel ini hanya menceritakan “Aku” (sang narator dan tokoh protagonis di dalam novel) yang bercerita tentang kisah delapan belas harinya selama berada di kota kecil yang berada di Jepang.

Dalam novel ini, “Aku”, bersama dengan temannya Nezumi mengisahkan tentang pemuda Jepang di era 60-an yang antikemapanan serta dipengaruhi oleh budaya barat yang melimpah ruah digandrungi oleh anak muda Jepang. Seiring berjalannya cerita, tokoh “Aku” akan bertemu dengan kekasihnya yang hanya mempunyai sembilan jari saat mereka sedang berada di Bar milik teman “Aku” yang dikenal sebagai J.

Novel ini adalah gerbang pembuka kita untuk mengenal dan memahami karya Murakami berikutnya. Karena beberapa bagian yang dikisahkan di dalam novel ini, secara tidak langsung akan berhubungan dengan karya-karya Haruki Murakami berikutnya.

Jadi buku ini tetap harus dibaca sebagai pelengkap untuk mengenal Murakami lebih jauh. Kalian bisa membaca ulasan dari kami tentang novel Hear the Wind Sing melalui link berikut.

Perjalanan Metafisik untuk Menyelamatkan Orang yang Dicintai, The Wind-Up Bird Chronicle

The Wind-Up Bird Chronicle atau Kronik Burung Pegas dalam terjemahan bahasa Indonesia. Adalah novel Haruki Murakami yang menampilkan sisi “kelainan dunia” dengan mengambil latar hotel labirin. Di mana istri sang protagonis utama, Kumiko, dipenjara oleh saudara lelakinya yang jahat, Wataya Noboru. Sang protagonis, adalah seorang suami sederhana yang menganggur bernama Okada Tōru. Ia harus menemukan jalan untuk menyelamatkan istrinya melalui perjalanan metafisik mencari labirin tersebut.

Baca juga:  Rekomendasi Musik Lokal untuk Kamu Dengarkan saat #DiRumahAja

Menghadapi Noboru, dengan tugas menyelamatkan Kumiko, Okada Toru dalam kisahnya juga harus menghadapi banyak keanehan yang terjadi dalam perjalanannya. Seperti gulungan waktu yang berputar menurun dan benturan zaman sejarah yang akan dihadapainya.

Karya ini bercerita tentang seks, kekerasan, dan ingatan kolektif yang hilang dan diperoleh kembali.

Pencarian Jati Diri, Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage

Novel ini akan membawa kita ke dalam proses pencarian kembali jati diri yang hilang dari pria bernama Tsukuru Tazaki. Tokoh utama dalam novel ini, Tsukuru Tazaki mempunyai masa lalu yang tidak pernah ingin dia ungkit kembali.

Masa lalu itu adalah bagaimana dia dilupakan dan dijauhi oleh kelompok teman-temannya selepas pindah dari Nagoya untuk kuliah di Tokyo. Padahal dulu kelompok teman-temannya tersebut sangat berkawan baik dengan Tsukuru saat masa sekolah.

Tsukuru yang mengetahui perubahan sifat teman-temannya pun tidak bisa menerima perlakuan itu bahkan hingga ia beranjak dewasa. Namun, Tsukuru menutupi hal tersebut dan selalu lari dari kenyataan, bahwa ia tidak bisa menerima keadaan yang terjadi kepadanya.

Suatu waktu, Sara, wanita yang disukai Tsukuru di masa depan, mencoba mengungkit masa lalu Tsukuru dan membantunya mencari kebenaran dengan apa yang terjadi dengan Tsukuru pada masa lalu. Pencariannya akan pemahaman membawanya untuk mencari kebenaran.

Di mana ia akan berhadapan dengan beberapa kebenaran sulit tentang dirinya sendiri. Ini adalah sebuah novel tentang pengkhianatan dan pengampunan, tetapi di atas semua itu, ini adalah novel yang bercerita tentang proses pendewasaan diri.

Ketika Terdapat Dua Bulan di Dunia, 1Q84

1Q84 adalah novel trilogi yang akan menghabiskan waktu kita cukup banyak. Cerita yang kompleks, alur yang padat serta misteri yang dibawa novelnya. Akan membuat kita berlama-lama dalam memaknai kisah yang ditawarkan.

Novel ini terdapat dua protagonis yang saling mempunyai hubungan di masa lalu, yaitu Aomame dan Tengo. Kedua tokoh protagonis tersebut akan membawa kita ke dalam plot yang bercerita tentang grup keagamaan misterius Sakigake.

Buku ini adalah novel pertama di mana Murakami mengangkat topik berisiko dari kelompok-kelompok religius pinggiran yang mempunyai sebuah titik pahit di Jepang sejak serangan teroris Aum Shinrikyo tahun 1995.

Sakigake, kelompok kultus fiksi berupaya membangun kembali hubungannya dengan roh-roh bumi yang dikenal sebagai Little People, novel ini mengejar plot sentral untuk menyatukan dua protagonis utama: yaitu Aomame, seorang instruktur kebugaran yang bekerja sambilan sebagai pembunuh bayaran yang kejam. Dan Tengo, seorang jenius matematika yang bekerja sambilan sebagai penulis.

Seperti novel-novel Murakami lainnya, novel ini memperlihatkan pertetangan dan ketegangan antara ideologi politik dan agama yang memengaruhi jiwa spiritual individu.

Kehilangan yang Menyakitkan, Norwegian Wood

Dari banyaknya karya Murakami yang bisa kita baca, Norwegian Wood masuk daftar Fardhu ‘Ain, atau sangat wajib dibaca di dalam kumpulan karya Haruki Murakami. Norwegian Wood adalah karya fenomenal dari Haruki Murakami. Sudah pasti maka jika ada seseorang yang bertanya apa buku Haruki Murakami yang harus saya baca? Maka jawaban pertama saya bukan lain adalah Norwegian Wood.

Bercerita tentang Toru Watanabe, seorang mahasiswa yang mempunyai masa lalu kelam tentang kehilangan sahabat karibnya, Kizuki yang mati bunuh diri. Kizuki mempunyai pacar bernama Naoko, yang mana Toru, sang protagonis utama juga mempunyai rasa cinta terhadapnya. Namun demi menghormati persahabatannya dengan Kizuki, Toru mengalah.

Baca juga:  Rekomendasi Musik Lokal untuk Kamu Dengarkan saat #DiRumahAja

Hubungan mereka sangatlah erat, ketiga sahabat karib itu selalu bersama dalam menjalani kehidupan mereka. Namun, semenjak Kizuki meninggal, semuanya berubah. Naoko menjadi pemurung dan mempunyai gangguan mental yang dahsyat. Sedangkan Toru, juga menjadi pribadi yang sangat diam. Terlebih saat kepindahannya untuk berkuliah di Tokyo.

Hubungan retrospektif itu membawa Toru mencari sebuah jawaban tentang keadaannya di dunia ini. Apalagi selepas Naoko meninggal bunuh diri ia semakin depresi dan merasa gagal dalam hidup. Pertemuannya dengan gadis berambut pendek yang berada dalam matakuliah yang sama dengannya, Midori, membawa sedikit perubahan bagi Toru. Tapi hal tersebutlah yang menjadikannya mendapatkan sebuah dilema besar. Apakah ia akan tetap memilih masa lalunya? Atau masa depan yang tengah ia hadapi saat ini?

Novel Norwegian Wood akan membawa kita ke dalam sebuah hubungan antar manusia yang begitu lekat namun menyakitkan. Pertemuan dan perpisahan yang sangat kental dibalut dengan narasi kematian yang begitu sesak, sangat terasa saat membaca ratapan yang dirasakan oleh masing-masing karakter dengan ciri khas dalam hidupnya masing-masing.

Novel ini wajib dibaca bagi kalian yang tengah mencari bacaan karya Haruki Murakami!

Haruki Murakami dan Hutangnya terhadap Budaya Pop

Haruki Murakami, bukan hanya penulis Jepang paling eksperimental yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, tetapi juga yang paling populer. Novel-novel terhebatnya, menghuni zona liminal antara realisme dan fabel, cerita detektif dan fiksi ilmiah:

Hard—Boiled Wonderland and the End of the World, misalnya, menampilkan tokoh protagonis yang memiliki dua pikiran, dan The Wind-Up Bird Chronicle, karyanya yang mungkin paling terkenal di luar Jepang, diawali dengan sangat sederhana—pencarian seorang pria akan istrinya yang hilang—lalu secara perlahan bermutasi menjadi narasi hibrida yang sangat aneh.

Semesta Murakami adalah semesta alegoris, dibangun dari simbol—simbol yang familiar—sumur gang kering, kota bawah tanah—tetapi makna dari simbol—simbol itu tetap hermetis hingga akhir novel.

Utangnya kepada budaya populer (dan budaya pop Amerika, khususnya), mengatakan kepada kita bahwa tidak ada penulis yang sepenuhnya pribadi.

(Kalimat di atas saya kutip dari buku Semesta Murakami, karya John Wray dan kawan-kawan).

Penulis: Pikri Alamsyah

Editor: Pikri Alamsyah

*Sebagai catatan, tulisan ini pertama kali tayang di Nawala Karsa pada tanggal 28 Mei 2020.

Bagikan:
256