Jakarta, Parmagz – Nama mahasiswa selalu diidentifikasikan sebagai sekumpulan pembawa perubahan. Mahasiswa adalah penggerak, juga pelopor pembaharu peradaban ke arah yang lebih baik. Karena sebagai Agent of Change, mahasiswa dituntut untuk mempunyai daya pikir yang kritis, solutif dan inovatif, supaya dapat mewujudkan pembaharuan yang progresif dengan ide-ide yang berdasarkan ketiga aspek tersebut.

Begitu pula peran mahasiswa sebagai Social Control, mahasiswa sebagai orientasi yang bersifat independen, tentu khittah-nya tidak lain ialah hanya sebagai pembela keadilan dan kemanusiaan. Sebagai jembatan antara rakyat dan pemerintah, mahasiswa mempunyai fungsi advokatif pengawal aspirasi rakyat serta pengawas kebijakan publik yang dibuat oleh pemerintah. Dalam hal ini, mahasiswa harus memperjuangkan kepentingan rakyat atas nama keadilan semata. Jika ada suatu ketimpangan yang menyebabkan rakyat menjadi sengsara, maka di situlah mahasiswa harus berperan aktif sebagai corong suara rakyat untuk bisa mewujudkan kemaslahatan kepada masyarakat umum.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Nurcholish Madjid (Cak Nur), mahasiswa mempunyai bentuk kebebasan relatif yang dapat melakukan tindakan mengeluarkan gagasan yang penilaiannya tidak memihak kepada siapa pun, kecuali terhadap keadilan dan kebenaran. Kebebasan relatif itu adalah salah satu privilese yang dipunyai mahasiswa, privilese tersebut dapat juga disebut sebagai kemewahan. Karena berkat kemewahan di atas, mahasiswa dapat lebih bebas mengeksplor ide atau gagasan yang tentunya diharapkan dapat membawa perubahan secara siginfikan kepada bangsa dan negara.

Secara sosiologis, mahasiswa disebut sebagai “The best human material of a nation” di mana mahasiswa adalah manusia terbaik yang dimiliki suatu bangsa. Karena mahasiswa disebut sebagai manusia terbaik dan juga memiliki fungsi sebagai iron stock dalam berbangsa, mahasiswa bisa dibilang sebuah bentuk harapan dari rakyat untuk bisa mewujudkan perubahan pada peradaban di masa yang akan datang.

Sebagai kampus yang memiliki catatan perjuangan, mahasiswa Paramadina tentu pada dasarnya harus memiliki semangat intelektual serta keinginan membawa perubahan di dalam maupun di luar kampus. Cak Nur berpesan kepada mahasiswa bahwa seharusnya mahasiswa diwajibkan memiliki sifat dinamis dan inovatif. Mahasiswa tidak boleh apatis dan harus peka terhadap keadaan sekitar. Selain itu, mahasiswa juga harus memiliki ide-ide atau gagasan yang bersifat solutif. Karena sebagai mahasiswa, kita disematkan tanggungjawab sosial yang harus disuarakan dan diimplementasikan agar dapat bisa mewujudkan cita-cita mahasiswa; yaitu dapat mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

Sifat itu lah yang sekarang terlihat sudah semakin mengikis dalam diri mahasiswa Paramadina. Dapat kita lihat, Taman Peradaban sudah jarang menjadi tempat beradu gagasan atau pun pusat lahirnya pemikiran yang cemerlang dari mahasiswa untuk kehidupan berbangsa. Sudut-sudut kampus sudah tidak lagi terdengar adanya diskusi-diskusi yang memantik pergerakan mahasiswa untuk membawa perubahan. Padahal sejatinya, mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton saja dalam misi pembawa perubahan tersebut, mahasiswa harus menjadi lokomotif yang bergerak melalui aksi nyata demi nilai kemanusiaan secara universal.

Jika kita kembali membaca sejarah pergerakan mahasiswa, tentunya dapat tersimpulkan bahwa memang mahasiswa adalah alat sosial-politik yang sangat efektif jika sifat-sifat yang disebutkan tadi kembali menggelora dalam jati diri mahasiswa sendiri. Kita bisa merefleksikan lagi bagaimana peran mahasiswa menurunkan kekuasaan Orde Lamanya Sukarno pada tahun 1965. Meski setelah itu muncul kekuasaan otoriter di bawah kepemimpinan Soeharto pada masa Orde Baru. Tapi pada akhirnya, gerakan mahasiswa kembali melakukan peran signifikan di tahun 1998 dengan menelanjangi dan merobohkan dinasti Soeharto beserta keluarganya. Namun itu semua hanya kisah romantisme masa lalu yang cukup dijadikan bahan pengingat sebagai mahasiswa saja. Sudah saatnya di era reformasi ini kita kembali bergerak agar catatan kegemilangan tersebut tidak menjadi kesia-siaan belaka.

Untuk dapat mengembalikan ruh itu di Paramadina, peran dari Organisasi Intrakampus seperti SEMA (Serikat Mahasiswa), HIMA (Himpunan Mahasiswa) atau pun UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), sangat penting untuk dapat mewadahi dan memberi ruang kepada para mahasiswanya untuk giat melakukan diskusi dan tukar gagasan yang bersifat solutif. Fungsi kaderisasi dari ketiga organisasi tersebut pastinya bukan hanya sebagai sarana pengenalan kampus secara generik, tapi juga di dalam pengkaderan harus dapat meningkatkan daya kognitif dari mahasiswanya. Metode kaderisasi harus lebih mengasah daya pikir mahasiswa agar dapat menjadikan mahasiswanya semakin peka dengan keadaan realitas sosial yang ada, dan tentunya -sekali lagi- hal tersebut dapat membawa perubahan yang lebih baik kepada masyarakat secara luas.

Sebagai mahasiswa, kita harus berisik. Berisik dalam artian mau menyuarakan aspirasi, gagasan atau ide-idenya. Di dalam kampus mahasiswa tentu bebas mengekspresikan diri. Mahasiswa sah-sah saja mengkritik dosen, maupun birokrasi kampus sekalipun jika memang ada sesuatu kekeliruan yang terlihat. Di luar, mahasiswa harus aktif menjadi penyambung suara rakyat yang tentunya bersifat independen, dan hanya memperjuangkan keadilan serta nilai-nilai kemanusiaan. Selain berisik, kita juga harus bergerak. Mahasiswa harus aktif dan tidak hanya berdiam diri. Sebagai mahasiswa, kita diharuskan bergerak dengan rasa keingintahuan yang lebih dengan mencari dan menggali realitas sosial melalui bahan bacaan yang ada.

Rasa keingintahuan itu pun akan menjadikan kita lebih peduli terhadap problematika di lingkungan sekitar yang tentunya dapat dicari solusinya oleh kita sebagai mahasiswa yang berpikir kritis, solutif dan inovatif. Dan dari bahan bacaan pula mahasiswa kemudian dapat mendiskusikan dan saling bertukar gagasan di Taman Peradaban bersama kawan-kawan. Itulah pemandangan yang memang seharusnya dapat kita ditemukan dengan mudah di setiap sudut Kampus Peradaban.

Ketika kegelisahan mulai bermunculan terhadap mengikisnya geliat intelektual di Kampus Peradaban ini. Rasanya harus ada sebuah aksi nyata dari mahasiswa Paramadina untuk dapat mengembalikan “ruh” kampus sebagai sebuah pusat budaya dengan tradisi intelektual yang bergairah.

Untuk itu, agar kita bisa kembali mengembalikan sikap kritis sebagai sikap utama kita sebagai mahasiswa, kami menantang mahasiswa baru untuk bisa menjadi bagian dari gerakan pembaharuan di Universitas Paramadina kita ini secara bersama-sama.

Selamat datang di kampus peradaban, kami tunggu aksi nyata kalian.

Bagikan:
151