Jakarta, Parmagz – Ada satu sikap yang kian hari kian terasa mengikis dari mahasiswa kita: sikap kritis. Kehidupan kampus tidak ubahnya hanya seperti sekolahan, tempat para siswa dijejali berbagai macam keilmuan, yang sebetulnya belum tentu mereka butuhkan. Dan para siswa hanya bisa menyambutnya dengan diam. Jika kampus sudah tidak ubah seperti sekolah, maka tamatlah riwayat mahasiswa.

Jika di sekolahan siswa hanya menunggu untuk disuapi oleh para guru, maka di kampus, mahasiswa harus bergerak sendiri untuk mencari. Di kampus mahasiswa bisa bebas mengekspresikan diri. Mahasiswa bebas menyuarakan aspirasi. Mahasiswa sah untuk mengritik dosen, bahkan birokrasi kampus sekalipun, jika memang ditemukan ada kekeliruan. Di luar kampus, mahasiswa harus bisa menjadi corong suara rakyat, mahasiswa harus tidak memihak pada siapa dan apapun, kecuali pada keadilan dan kemanusiaan. Hal-hal progresif itu yang jadi pembeda utama antara siswa dan mahasiswa.

Sebab itu, sudah seharusnya para mahasiswa baru untuk bergegas, bergerak mencari, tidak hanya berdiam diri dan menunggu untuk disuapi. Menjadi mahasiswa –harusnya— sama dengan menjadi manusia yang dipenuhi rasa ingin tahu dan peduli. Menggali apa saja yang ingin diketahui, kemudian mencari dan mendalaminya dari buku-buku bacaan dan realitas yang terjadi di lingkungan. Untuk kemudian mendiskusikannya dengan kawan-kawan di sudut Taman Peradaban, itu semua adalah pemandangan yang –sekali lagi, harusnya— dengan mudah dapat kita temukan. Namun kenyataan tidak berkata demikian.

Bergerak dan mencari tahu tidak hanya terbatas dalam lingkup ruang kelas saja, aktif dalam berbagai kegiatan kampus yang kita minati, juga sangat penting untuk mengembangkan kepekaan kita dalam membaca realitas yang ada. Mahasiswa harus bergerak mencari, mengisi dan meningkatkan kapasitas diri, mengasah minat, keahlian dan tentu saja nalar kritis. Mahasiswa harus memahami persoalan massa rakyat yang terjadi dengan menyeluruh, dan kemudian mendiskusikannya untuk mencari solusi. Sebagaimana dikatakan oleh Nurcholish Madjid (Cak Nur), mahasiswa haruslah memiliki sifat dinamis (tidak diam, apatis, jumud) dan inovatif (memiliki tawaran gagasan-gagasan baru yang cemerlang).

Mahasiswa harus aktif menyuarakan aspirasi, ide dan gagasannya. Bisa lewat lingkar-lingkar diskusi kecil atau lewat UKM yang kita ikuti. Sudah seharusnya tiap UKM ataupun HIMA, apapun minat dan jurusannya, haruslah tetap membekali para anggotanya untuk melek leterasi. Bukan berarti UKM olahraga hanya fokus untuk berlatih fisik saja, tapi perlu juga dilatih untuk memahami isu-isu terkini dari tema dan isu yang bersangkutan.

Organisasi intrakampus, SEMA, juga harus mewadahi dan memberikan ruang-ruang diskusi bagi para insan muda Paramadina untuk bergerak, berkembang dan bersuara. Karena jika ditilik dari sejarahnya, sejak tahun 1950-an, organisasi mahasiswa intrakampus berdiri sebagai lembaga yang independen. Bahkan pada awal-awal kemunculannya hingga reformasi misalnya, organisasi mahasiswa cukup memiliki posisi yang strategis dalam tatanan kenegaraan, yaitu sebagai “pengontrol” kebijakan pemerintah. Kita harus mengembalikan ruh itu di Paramadina.

Dalam sejarah, tercatat mahasiswa memiliki peranan-peranan yang sangat signifikan. Misalnya setelah tahun 1965, gerakan mahasiswa mampu membuat Sukarno turun dari kursi kepresidenan, meski setelah itu disambut oleh gumpalan awan hitam yang berkuasa selama 36 tahun berikutnya, Soeharto dalam bayang-bayang Orde Barunya. Pada tahun 1998, yang berhasil menggulingkan kekuasaan Soeharto yang meraja itu juga adalah gerakan mahasiswa. Namun demikian, jika kita sebagai mahasiswa di tahun 2018 ini hanya bisa mengelu-elukan romantisme kegemilangan gerakan mahasiswa di masa lalu, tanpa kembali bergerak, itu adalah kesia-siaan belaka.

Meski memiliki berbagai macam kelebihan dan keistimewaan, jauh-jauh hari pendiri Paramadina Cak Nur telah mengingatkan agar mahasiswa tidak tergoda untuk menjadi arogan dan angkuh, sok pandai serta mengidap arogansi intelektual dalam lingkungan masyaraktanya. Kita oleh Cak Nur, diingatkan untuk menjauhi “cacat psikologis” yang demikian, sebab itu akan menghambat pertumbuhan peranan sosial mahasiswa sendiri.

Melihat geliat intelektual yang makin hari makin sepi di Kampus Peradaban ini, rasanya perlu adanya revolusi tindakan yang harus dilakukan oleh semua kalangan mahasiswa yang ada di Paramadina. Kita perlu kembali mengembalikan kampus ini sebagai corong perubahan. Kita perlu kembali mengisi setiap sudut kampus dengan berbagai macam diskusi dan tukar gagasan. Kita perlu mengembalikan Taman Peradaban sebagai pusat geliat intelektual mahasiswa Paramadina. Kita perlu mengembalikan sikap kritis sebagai “jalan ninja” mahasiswa. Kami menantang para mahasiswa baru untuk menjadi generasi pembaru itu, generasi yang memulai perubahan.

Selamat datang di Kampus Peradaban. Bergeraklah, jangan diam.

Bagikan:
115