Kasihku Rina, hari ini awan sore tak nampak jingga, ia menghitam pekat. Apakah kau tetap di sini? Sebab aku ingin memberitakan kepadamu sebuah peristiwa yang tak lazim di negeri yang katanya subur, elok, rindang nan hijau itu.

Rina kau sudah tau kah tentang petani pinggir pantai di bagian tengah negeri itu yang sudah sejahtera dengan pohon-pohon kehidupannya? Mereka sangat bersyukur karena pantai yang berisi bulir pasir telah hidup untuk mereka pohon-pohon kehidupannya.

Dari pohon-pohon itu mereka menuai hasil setiap tiga bulan sekali untuk mencukupi kebutuhannya, hanya untuk sekadar cukup setelah itu mereka berbahagia. Mereka berbahagia dengan terus merawat pohon-pohon kehidupan mereka dengan penuh syukur.

Dan di tengah kebahagian, mereka berkumpul di tepi pantai untuk berunding siapakah yang akan mereka utus untuk ke pusat kota agar menjadi pemimpin negeri mereka kelak. Terdapat sebuah nama dari kesepakatan tersebut, yaitu Soekoyo. Ia dikenal sangat dekat dengan warga dan tak ragu untuk bekerja keras demi kebutuhan warga. Dan akhirnya berkat citra yang ia tampilkan kepada warga dan petani pinggir pantai, ia diutus  mengikuti pemilihan kepala negeri di pusat kota. Dengan bekal dukungan dari warga dan para petani, Soekoyo berangkat menuju pusat kota dan ia menabur janji kepada pendukungnya. Aku Soekoyo berjanji kepada kalian semua untuk membangun negeri kita menjadi lebih hijau dan untuk para petani agar mereka tetap merasa aman dengan pohon-pohon kehidupannya.  Ucap Soekoyo sebelum kepergiannya menuju pusat kota.

Dan waktu yang ditunggu para penduduk negeri telah tiba, mereka akan melaksanakan pergantian pemimpin melalui pemilihan. Dan akhirnya Soekoyo menjadi pemenang pada pemilihan tersebut. Kemenangan tersebut disambut gembira oleh mereka para petani di pinggiran pantai, karena merasa Soekoyo adalah bagian dari mereka.

Bukan nasib baik, justru yang dijumpai warga petani adalah sebaliknya. Kasih kau mungkin takkan percaya ini, pemimpin yang dicitrakan sangat dekat dengan keluarga petani tersebut kini ingin punya gedung-gedung raksasa di pinggir pantai, tengah hutan dan aspal yang membelah bagian hutan di negeri bagian tengah. Hasrat epithemia tak terbendung dengan dalih untuk sejahtera bersama-sama adalah omong kosong. Mereka para petani tidak menginginkan gedung-gedung raksasa, karena yang mereka punya cangkul dan pupuk yang tidak mungkin bisa digunakan lagi jika pohon mereka dirampas.

Lalu, kasih apa kau tetap di sini masih mendengar dengus ku tentang petani yang bernasib sial hanya karena ingin tetap bersama pohon hidupnya? Ia di hadapkan kepada sesuatu yang sulit untuk di hadang,  sebab ia menghadang sebuah keinginan yang sangat sulit untuk berhenti membangun lumbung-lumbung uang yang mengalir jauh ke pusat kota di sana.  Sedang sang petani yang  ingin hidup tentram bersama pohon-pohonnya terus di gerus oleh mesin perampas harapan dan petugas keamanan atas nama kemakmuran bersama buatan rakyat untuk menghantam dan menyeret paksa siapapun yang menghalangi kemauan majikannya tersebut.

Jangan kau teruskan ceritamu yang tadi Tyo, aku belum mengerti apa yang kau ucapkan tadi, tapi demi Tuhan yang sejuk aku ingin terus bersamamu di sini, dan aku akan terus mencatat segala apa yang kita saksikan dalam negeri yang penuh dengan keserakahan itu.  Agar kelak tumbuh benih-benih yang bersemai kepada mereka yang terus saja dirampas pohon-pohon hidupnya atas dalih perbaikan yang sia-sia.

 

Pengarang: Eep Larassandi

Editor: Nurma Syelin

Bagikan:
121