Di sebuah hutan yang terletak di tepian gunung, terkisahkanlah seekor harimau yang kini sedang bersiap untuk keluar sarang dalam hajatnya mencari mangsa, ia kini tengah merenggangkan otot-otot nya agar tidak kaku untuk berlari dan meloncat melewati pepohonan dan semak belukar yang ada. Ia tentu sadar bahwa dirinya adalah raja hutan, sebagai satu-satunya raja ia hanya “manut” terhadap naluriahnya yang mengatakan hidup yang tidak diperjuangkan, takkan pernah dimenangkan. Kalimat tersebut telah mendarah daging bagi setiap harimau yang hidup dan secara tidak langsung memiliki titah untuk menguasai apa yang ada di sekitarnya termasuk teritorial yang menjadi tempat tinggal.

Kini otot-ototnya telah siap untuk berburu mangsa, singkat waktu kini ia tengah berada di dalam hutan dan tengah mengendap-endap di antara semak belukar dan bebatuan yang curam. Matanya tajam mengawasi sekitar, telinganya ia tutup bila ada suara yang mengganggu konsentrasinya, mulutnya ia jaga agar tidak mengaum yang mengakibatkan mangsanya akan kabur, ia rangsang hidungnya untuk selalu sensitif akan jejak bau yang ditinggalkan mangsa pada benda sekitar sembari menyiapkan tubuhnya agar dapat melakukan gerakan yang meradang dan menerjang perisis yang dikatakan Chairil Anwar dalam sajaknya.

Waktu berlalu, sekarang ia tengah melamun di atas tebing yang tak jauh dari hutan, kini ia telah tumbuh menjadi harimau yang selayaknya harimau. Mengasingkan diri sejenak untuk menghayati penciptanya sepenuh hati. Dalam lamunannya tentang perjalanan hidup harimau tersadar, alam semesta ini bergerak secara sistematis dan sederhana, ia datang atas dasar sebab dan membawa yang namanya akibat.

Hadirnya semesta membawa kebaikan bila dalam hidup seluruh harimau hanya makan apa yang memang pantas dimakan. Dalam perkembangan waktu, seluruh harimau mesti ingat bahwa tatkala mereka semakin tua maka ia pun harus mengenal batas, dan kehidupan memanglah indah juga kebinasaan yang terus mengikutinya. Harimau harus siap menanggung akibatnya atas segala perbuatan yang ia lakukan selama beratapkan langit dan beralaskan bumi. Kini ia semakin sadar dalam kehidupan di hutan, seekor harimau mesti adil sejak pikiran apalagi dalam perbuatan. Tuhan berubah menjadi lebih kecil di tengah hutan, dalam rasa sayangnya ia menyelinap di antara aliran darah bagi makhluknya yang selalu merasa besar. 

Cerita di atas kini kita balik dari harimau menjadi seorang manusia, hutan menjadi ibadah shaum, semak belukar dan batu terjal adalah godaan, otot-otot merupakan batin dan mangsa menjadi potensi kebaikan.

Penulis: Rosyad Faruq

Editor: Pikri Alamsyah

Bagikan:
157