“Inkonsistensi Kubu Prabowo-Sandi Tanggapi Hasil Survei”, “Inkonsistensi Pemerintah Soal Rencana Insentif Pajak Mewah”, “Adipati Dolken Berat Pelajari Inkonsistensi Kasino Warkop DKI”. Beberapa judul berita di atas adalah judul yang muncul saat saya mengetik “inkonsistensi” di mesin pencarian Google, setidaknya dalam beberapa hari belakangan.

Diksi inkonsistensi merupakan kata yang efektif untuk memaknai suatu konteks yang dalam menurut saya. Karena makna dasar inkonsistensi yang berarti, suka berubah-ubah atau plinplan, bisa dimaknai lebih dalam, tergantung pada kontekstualisasi si penulis atau si pembaca. Jika inkonsistensi digunakan pada konteks yang sesuai menggambarkan situasi objek yang dituju, maka pemilihan kata inkonsistensi bisa mewakilkan suasana berpolemik tersebut. Seperti halnya dengan ketiga judul berita yang saya sampaikan di atas.

Jika ditarik ke dalam semantik leksikal atau pemaknaan studi tentang arti kata dalam Bahasa Indonesia, inkonsistensi merupakan sebuah homonim, karena arti-artinya memiliki ejaan dan pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda. Inkonsistensi memiliki arti dalam kelas nomina atau kata benda yang menyatakan seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan.

Dalam sejarah kebahasaan di bahasa Inggris, inkonsistensi atau inconsistency ialah adjektiva atau kata sifat, yang dalam pembentukan kata tersebut diperoleh dari kata imbuhan –in dan kata dasar consistent. Bahasa yang pada umumnya selalu memiiki nilai historis, saya menemukan bahwa berdasarkan Kamus Merriam Webster, kata inconsistency pertama kali digunakan pada tahun 1647, sedangkan kata inconsistent pada tahun 1620. Kemudian kata consist sendiri digunakan pertama kali di tahun 1526.

Tak berhenti dari situ, saya mencoba untuk mengetahui dimana kata tersebut digunakan pada tahun yang tertera. Tapi, sayangnya saya tidak menemukan jawaban yang pasti setelah menyelam kurang lebih 2 jam di dunia maya. Hanya menemukan teks klasik berjudul “The Internal Consistency of the Bible” tahun 1859 dan sebuah manusskrip di tahun 1647 berjudul “The Putney Debates” yaitu serangkaian diskusi mengenai susunan konstitusi baru untuk Inggris, antara anggota The New Model Army dan dengan sejumlah gerakan politik saat perang saudara di Inggris bernama ‘Lavellers’. Dari manuskrip tersebut, banyak ditemukan kata inconsistent, consist, consistent dan consistency.

Tapi seperti yang saya katakan sebelumnya, sayangnya sejarah tidak menyatat dimana diksi tersebut pertama kali digunakan. Karena evolusi terkait perkembangan bahasa telah menjadi subjek spekulasi para linguis selama berabad-abad, karena tidak ditemukannya bukti tercatat dari development of language itu sendiri. Seperti kata Charles Darwin di bukunya yang berjudul “The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex”, “I cannot doubt that language owes its origin to the imitation and modification, aided by signs and gestures, of various natural sounds, the voices of other animals, and man’s own instinctive cries.” Keterkaitan bahasa dengan emosi manusia ini yang menjadi polemik tidak tercatatnya perkembangan bahasa.

Nah untuk kamu yang mau menggunakan kata inkonsistensi, mungkin di skripsisan, cuitan atau sekadar ngasih guyonan ke teman yang emang perilakunya ‘inkonsisten’, kamu bisa gunakan kata lain yang masih bersinonim dengan kata inkonsisten, yaitu plinplan, inkompatibilitas, kontradiksi, dan paradoks.

Bagikan:
133