Jakarta, Parmagz – Sabtu (21/10) telah berlangsung Wisuda Sarjana Strata Satu (S1) dan Magister (S2) Universitas Paramadina di Auditorium Nurcholis Madjid. Wisuda di bulan Oktober ini mengangkat tema “Peran Masyarakat Madani dalam Kebangkitan Nasional“.

Prosesi wisuda diawali dengan sambutan dari Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Paramadina, Totok A. Soefijanto, Ed.D dan dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Umum Yayasan Wakaf Paramadina, Hendro Martowardojo. Sebelum prosesi wisudawan dimulai, Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) tahun 2015-2016 kabinet Jokowi-JK periode 2014-2019 yang sekaligus pernah menjadi Rektor Universitas Paramadina, Sudirman Said,MBA, mengisi orasi ilmiah dengan tema “Peran Masyarakat Madani dalam Kebangkitan Nasional”.

Sudirman Said, MBA memberikan orasinya yang berjudul Peran Masyarakat Madani dan Kebangkitan Nasional. (Foto: Faujan Ari)

Dalam orasi beliau yang akrab disapa SS ini mengatakan apa itu makna masyarakat madani dan cita-cita Cak Nur terhadap masyarakat madani itu sendiri. Setelah orasi ilmiah selesai, dilanjutkan dengan acara prosesi wisuda yang diakhiri dengan pelepasan wisudawan oleh Rektor Universitas Paramadina, Prof. Firmanzah Ph.D, yang meluluskan 172 sarjana dan magister. Beliau pun  menyebutkan beberapa kategori wisudawan yang diwisuda kali ini, di antaranya wisudawan termuda, wisudawan dengan poin dual transkrip tertinggi, dan wisudawan terbaik dari program sarjana dan pasca sarjana.

Reza Saputra (Alumni Ilmu Komunikasi 2013) merupakan Wisudawan Terbaik Sarjana Universitas Paramadina. Lelaki kelahiran Aceh ini mengaku terharu ketika namanya dipanggil oleh pembawa acara sebagai lulusan terbaik. Bahkan, ketika ia menyampaikan ucapan di podium, tak sedikit peserta wisuda, orangtua, dan civitas akademika yang meneteskan air mata.

Reza Saputra merupakan Wisudawan Terbaik Universitas Paramadina periode Oktober 2017. (Foto: Istimewa)

“Waktu lulus SMA, saya sempat frustrasi nggak bisa kuliah karena kondisi ekonomi keluarga yang terbilang cukup, dan pada waktu itu hanya Ibu yang menafkahi keluarga karena ayah sudah almarhum sejak saya kelas 4 Madrasah. Ketika saya mendapat beasiswa Paramadina Fellowship, cita-cita saya untuk bisa menempuh perguruan tinggi tercapai dan penghargaan ini adalah hadiah terindah untuk Ibu dan keluarga,” tutur Reza.

Di balik pencapaiannya menjadi seorang Wisudawan Terbaik, Reza bertekad untuk memanfaatkan masa studi sebaik-baiknya dengan aktif di kegiatan akademik maupun non akademik. Baginya, kuliah tetap prioritas, dan ia mengatur skala prioritas kegiatan yang ia ikuti sesuai manfaatnya. Hal inilah yang membuat Reza mampu membagi waktu antara belajar dan berkegiatan.

Wisudawan dengan IPK 3.88 dan poin dual transkrip sebesar 265.5 ini berpesan bahwa mahasiswa harus menjalani masa kuliahnya dengan aktif, namun tetap menomorsatukan kuliah agar dapat lulus tepat waktu.

“Hal terpenting sebagai mahasiswa adalah menyelesaikan tanggung jawab dan jangan menunda. Maksudnya, jangan bolos kuliah atau tipsen (titip absen) yang akhirnya malah merugikan diri sendiri. Istilah ‘penyesalan akan datang belakangan’ itu benar banget, karena itu kita harus manfaatkan waktu sebaik-baiknya sebelum menyesal di kemudian hari,” tutup Reza.

Acara wisuda tak lengkap bila tak memakai toga dan baju wisuda. Toga dan baju wisuda khas Universitas Paramadina berwarna biru dengan perpaduan abu-abu untuk program sarjana, sedangkan untuk program magister berwarna merah dengan perpaduan abu-abu. Namun, terdapat keterlambatan saat pembagian toga dan baju wisuda.

Radiv Annaba, Wisudawan dari Prodi Hubungan Internasional 2012, mengungkapkan bahwa rencana estimasi sampainya toga dan bajunya, yakni hari Kamis dan dibagikan saat gladi bersih wisuda. Namun, wisudawan baru diinfokan bahwa ada keterlambatan datangnya toga dan baju wisuda yang akan dibagikan pada saat H-1 wisuda, yakni hari Jumat (20/10) pukul 2 siang.

“Dari jam 2 kami sudah nunggu, tapi nggak datang juga. Sampai jam 7 dan 10 malam, ada beberapa wisudawan yang belum dapat toganya. Yang bikin kecewa, pihak panitia nggak kasih alasan atau solusi dari keterlambatan ini. Pihak panitia kurang profesional. Waktu itu kami (wisudawan) diminta melunasi biaya wisuda sebesar 1,9 juta rupiah sebelum tanggal 30 September  2017, kalau belum bayar ancamannya nggak bisa wisuda. Kami usahakan melunasi sebelum tenggat waktu, tapi mereka (panitia wisuda) malah nyepelein dan nggak memenuhi hak kami,” pungkas Radiv.

Dari permasalahan ini, ada banyak wisudawan yang merasa dirugikan karena merasa pihak kampus tidak profesional. Beberapa dari mereka bahkan sampai izin kerja dan bolak-balik ke kampus meski rumah mereka berada jauh dari Jakarta. Hal ini dianggap membuang-buang waktu.

Komentar yang sama juga disampaikam oleh Ahmad Wachdi Renaldi selaku Wisudawan dari Prodi Hubungan Internasional 2013. “Ketidakprofesionalan pihak panitia terbukti dari tidak ada yang mengaku salah. Belum lagi, tidak ada transparansi dan permintaan maaf dari pihak panitia mengenai hal ini,” ujarnya.

Sofyan Sauri selaku Ketua Panitia Pelaksana Wisuda Oktober ini memberikan pernyataan keterlambatan tersebut terjadi akibat kesalahan vendor.

“Hal ini di luar dugaan dan bukan disengaja. Keterlambatan pengirimannya (toga dan baju wisuda) akibat ada dua penjahit vendor yang sakit sehingga menghambat proses penyelesaiannya,” tuturnya.

Sofyan menambahkan setiap wisuda kampus Paramadina selalu pakai vendor yang sama dan tak pernah mengalami kendala. Namun untuk tahun ini terjadi masalah hingga pengiriman baru sampai pukul 16.00 WIB dari Pamulang hingga pukul 21.00 WIB. Pengiriman pun dilakukan lima tahap pengiriman memakai kurir vendor dengan sepeda motor dan jasa pengiriman ojek online untuk paket 172 wisudawan.

“Jujur kecewa, hingga ini menjadi evaluasi bagi kami (panitia) agar kejadian ini tak terulang kembali.” tambahnya.

(fr/lm/ppt)