Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh tanggal 31 Mei tiap tahunnya sejak tercetus pertama kali oleh World Health Organization (WHO) pada tahun 1987 sama seperti tahun-tahun sebelumnya tembakau menjadi topik perbincangan serius diantara para penggiat kesehatan seperti aktivis dan organisasi yang bergerak dibidang sejenis tiap memasuki bulan Mei. Banyak pro dan kontra dari peringatan Hari Tanpa Tembakau mengingat betapa besar dampak yang disebabkan tembakau. Peringatan ini juga sebagai kampanye pada para perokok untuk puasa merokok selama sehari penuh guna menyadarkan mereka untuk perlahan-lahan lepas dari rokok. Dalam sejarahnya sendiri, tembakau merupakan salah satu komoditi penting dalam perdagangan khususnya di daerah Indonesia sendiri yang dikemudian hari menarik para penjajah untuk mengambil alih kepemilikan dari komoditi tersebut karena pangsa pasarnya yang sangat besar.

Bertanya tentang apakah tembakau menghidupkan atau malah mematikan, seperti yang kita ketahui, tembakau pastilah lebih condong ke kata mematikan. Menurut riset dari WHO pada tahun 2014, tiap tahunnya rokok menelan korban hingga 6 juta jiwa, baik dari perokok aktif maupun pasif. Dituturkan pula bahwasannya rokok memperpendek umur manusia hingga sepuluh tahun. Imbas dari asap rokok secara tidak langsung berpengaruh kepada perokok pasif. Ketimbang perokok aktif, perokok pasif memiliki resiko kematian lebih besar dari asap rokok yang dihirupnya.

Berbanding terbalik, melihat dari sudut pandang para petani tembakau atau pekerja pabrik pembuatan rokok, tembakau pastilah menghidupkan. Tembakau dari dulu hingga kini menjadi salah satu komoditi vital dalam perekonomian kita. Dari komoditi ini pula banyak keuntungan yang diterima oleh negara tiap tahunnya. Bukan sebuah rahasia bahwa industri rokok selain memberikan pajak yang sangat besar pada negara, setidaknya negara mendapatkan sedikitnya 100 triliun rupiah dalam setahun dari industri rokok, mereka juga menyerap banyak tenaga kerja untuk melinting rokok-rokok tersebut dan mengemasnya untuk siap diedarkan. Dari promosi melalui media massa pun para produsen rokok mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit dan kembali menjadi pendapatan bagi negara. Menjadi sebuah ironi ketika pemerintah berusaha untuk membatasi rokok namun disisi lain ekonomi mereka bergantung pada pajak dari rokok.

Di Universitas Paramadina sendiri, kawasan bebas rokok telah diatur secara jelas dengan pemasangan tanda dilarang merokok. Namun ada beberapa orang yang terkadang masih saja merokok di kawasan bebas rokok. Menurut beberapa mahasiswa, walaupun merokok di kantas (Kantin Atas) diperbolehkan, banyak dari mereka kadang merasa terganggu akan asap rokok tersebut ketika sedang makan. Dan akhirnya mereka lebih banyak mengalah untuk makan di tempat lain karena tidak enak menegur. Menurut kalian, tembakau itu lebih banyak menghidupkan atau mematikannya, sih? (ris)