mosque_523

Mungkin kita tak selalu yakin, bahwa sesuatu yang bermakna muncul dari sesuatu yang kecil. Mungkin benar karena kita seringkali terlena dalam hal-hal yang besar. Tetapi seringkali kita juga tak dapat menghindarinya, dan terkadang yang kecil-kecil itu mampu menggetarkan.

Pagi ini, pukul 8 di Pancoran Barat, Jakarta Selatan. Sekelompok anak muda keluar dari sebuah gang. Mereka berjalan sambil membahu setumpuk baliho dan spanduk. Sedikit pertanyaan kecil muncul, namun semua segera hilang.

Oh, ini Jakarta, dan sekarang sudah tanggal 5. Pasti itu setumpuk foto pasangan calon pilkada.

Seorang lelaki paruh baya berlalu. Sambil menenteng sebuah kresek hitam lusuh, langkahnya terseok-seok. Merekapun mulai mendekati sebuah tihang sambil mengikatkan sebuah pemancang di sisi lainnya. Salah satu di antara mereka membentangkan spanduk hingga membentang di pampang pinggir jalan. Dan ternyata memang salah.

Mungkin pikiranku sudah riuh. Atau sudah dipenuhi terlalu banyak bayang-bayang kegaduhan. Ternyata, itu hanya sekedar sebuah spanduk perayaan Maulid Akbar. Akupun tersenyum. Mungkin setengah menertawakan diri sendiri, sambil menghabiskan sisa nasi kuning yang sudah mulai dingin.

Dek, ini bulan Maulid ya?” Tiba-tiba sebuah pertanyaan kecil terpatah muncul dari nenek penjual nasi yang tak kurang berusia juga setengah baya. Deg!

Oh … kurang tau, Nek. Tapi ini bulan Februari. Saya kira.” Nenek itu hanya tersenyum. Jantungku terus berdegup.

Mungkin kita tak selalu yakin, bahwa keyakinan kita pada sesuatu selalu menyisakan ruang gelap di dalamnya. Mungkin benar kita selalu merasa bahwa dengan hanya duduk manis di bawah terik sinar pagi, sambil menikmati sepiring nasi dan segelas susu, akan membuat tubuh dan jiwa kita segera bugar serta sehat. Tetapi seringkali juga kita lupa, terkadang cuaca tiba-tiba saja bisa rusak dan menggugurkan semua yang tumbuh di hari yang sama.

Pagi tadi, misalnya, ketika aku masih terlelap, rupanya hujan jatuh di luar (antara pagar bertengkar). Kudengar perlahan, sebelum membuka kedua kelopak mata, yang datang tak habis-habis. Namun tiba-tiba saja segera semua gaib, seperti lampu yang hanya berkedip.

Dalam gelap itupun kudengar, gerimis tipis yang sedikit ingar.

Bangkitlah.” bisik jendela kamar. Namun tiba-tiba saja segera semua luput, seperti kembali ada yang menjemput.

**

Ya… mungkin, esok terbangun nanti di hari yang baru. Akhirnya kitapun hanya kembali bisa bertanya: kalau sebuah kebenaran bisa menyelamatkan manusia dari kematian, apakah kebenaran juga dapat menyelamatkan manusia dari mimpi?

Kuhafal baris demi baris
Semua yang tak tertulis
Sebab, tiba-tiba semua raib.

Penulis: Shiny.ane el’poesya, Falsafah dan Agama.

Kontributor Parmagz.