Salah Langkah ke Arah yang Tepat (Foto: Eko Fristiawanto)

Salah Langkah ke Arah yang Tepat. (Foto: Eko Fristiawanto)

Sang guru yang memang ahli pada ilmu keagamaan sedang membawakan materi tentang kejujuran. Dia punya pemahaman “buat apa nilai bagus kalo hasil nyontek, masih lebih bagus nilai jeblok tapi hasil kejujuran“. Perkataannya menjadi motivasi tersendiri untukku, membuatku teringat saat UN yang lalu, mencoba untuk tidak jujur tapi gagal.

Dilain hari, pada mata pelajaran yang sama, materinya adalah tentang kesyukuran. Ada sebuah ungkapan yang masih kuingat baik, “Tuhan itu Mahabaik, nggak mungkin Dia ngasih yang buruk ke kita” “Hidup orang beragama itu indah, udah dipilihin yang bagus kok masih ngeluh, itu yang malah bikin keruh”. Awalnya memang aku tidak mengerti, namun lama kelamaan aku paham.

Hingga kelas 3 SMK aku masih berguru dengannya semua yang diajarkan betul-betul terasa dalam kehidupanku. Gaya hidupnya yang sederhana, kegemarannya mendengarkan lagu religi menular padaku, membuatku menggemari hampir semua lagu Maher Zain sejak SMK kelas 2. Dan bahkan pernah ada di pikiranku untuk mengenakan kemeja lengan panjang ketika bersekolah. Tapi tidak kujalankan karena itu perubahan yang terlalu ekstrem, karena siswa laki-laki yang ikut ekskul keagamaan saja tidak berpakaian seperti itu, masa iya aku yang siswa biasa justru berpenampilan terlalu agamis.

Karenanya aku bisa melihat hidup ini dengan lebih baik. Jika aku melihat hidup dari sisi yang berbeda, sebetulnya masuknya aku di sekolah ini adalah jalan yang terbaik, karena alasan pertama adalah tidak ada angkutan umum yang melintas di SMKN C, sekolah incaranku dulu, perlu berjalan kaki beberapa ratus meter untuk dapat menggunakan  transportasi massal terdekat, berbeda dengan sekolahku saat ini yang angkutan umumnya hanya berjarak sekitar 50 meter dari gerbang, lebih dekat dibandingkan dengan sekolah incaranku itu. Alasan kedua adalah bisa jadi jika aku masuk di SMKN C, belum tentu dapat merasakan memiliki guru yang sangat patut diteladani. Alasan ketiga adalah teman-teman yang kumiliki hingga lulus ini, teman-teman yang kehidupannya baik, pergaulannya pun baik, serta bersama mereka aku mengembangkan sebuah tim yang bisa menjadi loncatan dalam karirku.

Aku belajar banyak hal yang sangat berkualitas tentang hidup yang lebih damai. Sesuai sekali dengan kalimat “apa yang kamu suka, belum tentu baik untukmu. Apa yang tidak kamu suka, bisa jadi itu yang baik untukmu“. Awalnya memang aku mengeluh, namun dalam perjalananku bersekolah, aku merasakan transformasi dalam diriku karena apapun yang terjadi hidup ini berlanjut. Hidup kita harus naik. Dan ini yang kupaham terhadap ungkapan “salah langkah ke arah yang tepat” karena yang kita rencanakan masih bisa salah dan buruk untuk kelanjutan hidup kita. Salah langkah artinya apa yang kita rencanakan tidak berhasil, ke arah yang tepat adalah arah yang diinginkan Tuhan, yang pastinya lebih indah untuk hidup kita masa kini dan masa depan.

Selalu ingat bahwa yang direncanakan Tuhan, jauh lebih indah dari rencana kita. Bahkan kalaupun sebenarnya rencana kita sudah baik dan tetap gagal, itu artinya Tuhan memberikan kita petunjuk untuk belajar lebih banyak lagi. (ef)