Judul Buku: The Ones Who Walk Away from Omelas

Pengarang: Ursula K. Le Guin

Penerbit: Creative Education, Inc.

Tahun Terbit: 1997

Halaman: 32

 

“We have a bad habit, encouraged by pedants and sophisticates, of considering happiness as something rather stupid. Only pain is intellectual, only evil interesting. This is the treason of the artist”

The Ones Who Walk Away from Omelas adalah cerpen yang menceritakan tentang sebuah kota bernama Omelas dengan pemandangan yang sangat indah. Masyarakatnya hidup dalam kesenangan, kedamaian dan kebahagiaan. Di sana tidak ada pemerintahan, tidak ada raja, tidak ada perang, dan tidak ada tentara. Orang-orang Omelas suka sekali mengadakan festival di musim panas. Omelas merupakan kota yang sempurna yang didambakan banyak orang.

Namun semua kebahagiaan itu ada harganya. Di satu sudut sepi Omelas ada satu ruangan kecil yang dihuni oleh seorang anak kecil. Anak tersebut hidup di ruangan bobrok dan kotor itu dan dibiarkan kelaparan, kesepian, tersiksa dan terisolir dari masyarakat. Semua orang di Omelas, kecuali anak kecilnya, tau akan anak tersebut, tetapi mereka teteap diam. Jika anak tersebut dibebaskan, ilusi kebahagiaan dan kesempurnaan yang selama ini menyelimuti Omelas akan hilang. Beberapa orang dewasa dari Omelas yang tidak bisa menerima kenyataan tersebut dan memutuskan untuk pergi, meninggalkan Omelas. Orang-orang yang telah meninggalkan Omelas tidak pernah terlihat lagi, merekalah yang disebut sebagai orang-orang yang pergi meninggalkan Omelas, the ones who walk away from Omelas.

Cover buku The Ones Who Walk Away From Omelas. (Foto: en.wikipedia.org)

Cover buku The Ones Who Walk Away From Omelas. (Foto: goodreads.com)

Dari awal penulisan cerita ini, ada cara penulisan yang cenderung aneh dan bikin merinding dari Le Guin. Cara Le Guin mendeskripsikan setiap suasana seperti suasana di festival yang meriah dan menyenangkan, sampai suasana sesak di ruangan si anak kecil yang dibiarkan menderita sangat mendetail, membuat kita yang membaca seakan melihat hal-hal itu dengan mata kepala sendiri.

Cerita ini sendiri tidak memiliki plot alias plotless. Bahkan tidak ada dialog sama sekali, tapi hal yang menarik dari cerita ini adalah ini terjadi di dunia nyata. Well, mungkin nggak sama persis seperti di cerita, tapi banyak pernyataan dari Le Guin ini yang nyatanya ada di sekitar kita. Di cerita, orang-orang di Omelas mengorbankan hidup, kebahagiaan satu orang agar semua orang di Omelas bisa bahagia. Apa ada hal seperti itu di dunia nyata?

Ada. Banyak.

Berbeda dengan di Omelas, di dunia kita, banyak rakyat-rakyat kecil yang kebahagiaanya diambil, diabaikan agar orang-orang dengan kekuasaan lebih tinggi bisa menikmati apa yang mereka punya. Le Guin memberikan cerita dalam bentuk satire yang masih cukup relatable untuk kita baca. Totally recommended! (fan)