___raksasa dari jogja 031012 front

 

Judul: Raksasa dari Jogja
Penulis: Dwitasari
Penerbit: PlotPoint Publishing
Tahun terbit: 2012
Cetakan: Ketiga, November 2012
Jumlah halaman: 270 halaman

Raksasa dari Jogja merupakan novel pertama yang ditulis oleh Dwitasari, kreator akun @teenlovefeel pada jejaring sosial twitter.
Novel ini bercerita tentang seorang gadis yaitu Bianca,  yang tidak lagi percaya kepada cinta. Karena ia tumbuh bersama kisah yang dibentuk dari air matanya, makian dan pukulan papanya. Hari-harinya dipenuhi dengan pertengkaran kedua orang tuanya, yang berujung pada kekerasan dalam rumah tangga oleh papa ke mamanya.
Belum hilang ketidakpercayaannya pada cinta, sahabatnya Letisha, merebut cinta pertamanya Joshua.
Akhirnya ia pun memutuskan untuk melanjutkan studi di Jogjakarta, kota yang menyimpan begitu banyak kenangan indah masa kecilnya bersama dengan sepupunya, Kevin. Disanalah ia bertemu dengan Gabriel, sosok malaikat pembawa kabar baik yang pertama kali ditemuinya di halte transJogja. Gabriel dengan tinggi badan 196 cm berhasil membuatnya kembali percaya akan cinta dan menjadi raksasa di hati Bianca.
Kisah dalam novel ini merupakan kisah cinta biasa yang tak lagi asing bagi kita. Seorang gadis, yang sudah tidak percaya pada cinta karena apa yang dialami oleh kedua orang tuanya. Baginya, cinta akan selalu berujung dengan pengkhianatan dan sakit hati. Pertemuan Bianca dengan Gabriel mengembalikan kepercayaannya akan cinta.  Penulis menggambarkan sosok Bianca dengan karakter yang cukup kuat, dan si “Raksasa” Gabriel, sosok yang unik, dari ukuran badan, dan kepribadiannya yang tidak tergambarkan oleh sosoknya yang tinggi, besar, dan agak menyeramkan yang ternyata berhati malaikat. Latar Jogja yang dipilih penulis, digambarkan cukup detil, mulai dari tempat-tempat wisata Jogjakarta, sampai rute bus trans jogja. Dalam novel pertamanya, Dwitasari mencoba mengalirkan cerita lewat bahasa yang mudah dimengerti dan tidak begitu berat. Namun sayang, penulis belum pandai membuat pembaca menjadi penasaran dengan ending dari novel ini, sangat mudah ditebak sejak awal membacanya. Membaca bagian akhir dari novel ini, tidak lebih dari sekadar ingin menuntaskan suatu pekerjaan yang sudah terlanjur dimulai.

Namun marketing dan promosi novel ini yang begitu gencar dilakukan di jejaring sosial twitter, terbukti baru beberapa bulan setelah terbit, novel ini sudah memasuki cetakan ketiga. Kutipan-kutipan puisi yang banyak diselipkan juga menjadi daya tarik tersendiri dan diminati oleh  kalangan remaja.

 

Kartini Bahar

Ria Adryani