public-relations-copy

Sumber Gambar : www.artflakes.com

Humas, yang kemudian dikenal sebagai Public Relations (PR), memang terus mengalami perkembangan baik dimensinya sebagai profesi maupun bidang ilmu. Hal ini terjadi seiring dengan makin banyaknya perguruan tinggi di Indonesia yang membuka program Ilmu Komunikasi dengan kajian khususPR. Namun, perkembangan PR sebagai profesi lebih pesat dibandingkan keilmuannya. Ini merupakan tantangan besar bagi para akademisi untuk lebih memperkaya penelitian dan kajian keilmuan Public Relations.

Peranan hubungan masyarakat (humas) dahulu dan kini sangat berbeda. Dahulu humas identik sebagai event organizer, membawakan tas direktur, atau menemani ibu pejabat berbelanja. Namun kini, humas harus bisa membuka ruang dalam menjembatani investasi dan ruang pasar penjualan produk.

Di Indonesia sendiri, khalayak terlanjur menyederhanakan fungsi seorang Public Relations. Padahal apabila dimaksimalkan manfaatnya sangat bersar bagi kepentingan organisasi, dunia usaha, termasuk lembaga Pemerintah. Public Relations sebenarnya merupakan suatu bidang yang sangat potensial di masa mendatang karena posisinya yang sangat strategis. Public Relations tidak hidup di ruang hampa. Ia memerlukan ruang untuk mengartikulasikan peran dan fungsinya untuk membangun citra positif perusahaan, menjalin hubungan yang harmonis dengan publik dan menyelesaikan krisis yang terjadi.

Di jaman yang semakin canggih, peran humas tentu turut mengembangkan sebuah perusahaan. Humas tidak hanya sekedar mengkomunikasikan antara perusahaan dengan publiknya dan meningkatkan citra positif perusahaan di mata publiknya. Seorang humas juga harus mampu menangani suatu krisis yang terjadi di perusahaan. Bukan hanya menangani krisis, tetapi juga mampu mengembalikan kepercayaan publik terhadap perusahaan pasca kritis.

Dalam prakteknya, seorang humas tentu tidak diperbolehkan memutarbalikkan fakta atau berbohong kepada publiknya. Ada dilema yang terjadi dalam diri seorang Public Relations ketika kebenaran justru tidak menguntungkan diri dan perusahaannya. Yang perlu diingat adalah tidak setiap hal yang benar harus dikatakan, tetapi setiap hal yang kita katakan haruslah yang benar. Berbohong kepada publik, seperti juga dosa lainnya, selalu sulit dilakukan pada saat pertama. Ada rasa bersalah, ada gesekan nurani, tetapi sekali Anda melakukannya, yang kedua selalu lebih mudah, yang ketiga menjadi kebiasaan, dan selanjutnya Anda akan professional dalam berbohong. That’s the end of Public Relations.

Kemudian, seorang humas juga harus bersifat “Listening” atau mendengarkan. Ini artinya seorang humas harus mengetahui apa yang terjadi saat ini, apa saja isu-isu perusahaan yang tengah dibicarakan oleh publik. Tidak dapat dipungkiri, peran Public Relations angat berpengaruh di masyarakat. Bahkan dapat diandalkan untuk mempengaruhi dan mengendalikan pemikiran dan persepsi publik. (Ana)