1

 

Caknur dan perjuangan wacana polemik keagamaan

Menggunakan kerangka Taufik Abdullah dalam tulisannya yang berjudul (-gelombang) “Pemikiran islam di nusantara dalam perspektif sejarah.” Islam masuk ke Nusantara (-sampai pada generasi Caknur) adalah merupakan gelombang yang kelima.

Gelombang pertama terjadi sejak abad 13an yang diindikasikan oleh penemuan arkeologis di Pasai berupa batu nisan dan berita-berita dari Marcopolo dan Ibnu Batutah dan beberapa hikayat-hikayat seperti hikayat raja pasai. Hingga gelombang keempat hadir dalam wajah politik yang diawali oleh wajah “pan-islamisme” dan mulai muncul islam bercorak global sebagai respon pertama terhadap gejala kolonialisme yang dilakukan oleh Barat terhadap dunia timur terkhusus islam.

Pada lanjutan fase inilah gelombang kelima hadir dalam bentuk/warna “wacana pembaruan agama” di bidang intelektual yang merupakan respon islam secara kebudayaan dalam menghadapi kebangkrutan peradaban islam tersebut. Wajah Gelombang kelima inipun memiliki babakannya tersendiri dalam perjalanannya apabila kita melihatnya dengan lebih rinci lagi. Babak pertama adalah babak yang kasusnya hampir “meniru” kejadian ditingkat globalnya. Yaitu wajah “polemik-keagamaan” antara kaum modernis dan ortodoks yang terjadi sepanjang empat-puluhan tahun pra kemerdekaan indonesia sampai dua-puluhan tahun setelah kemerdekaan indonesia. sedangkan pada babak kedua terjadi setelahnya sampai pendirian ICMI pada tahun 80an sebagai bentuk kristalisasi pemikiran dalam bentuk institusi. Babak kedua ini dicirikan dengan kasadaran kritis baik kepada “modernisme juga kepada ortodoksi tradisi” baik kebudayaan maupun agama.

Dari serangkaian penjelasan di atas. Sosok Caknur sendiri tentunya memiliki posisi eksistensial dalam seluruh pergulatan tersebut. sudah barang tentu bahwa Caknur adalah salah satu aktor yang ikut berbaris bukan di gerbong intelektual. Sebagaimana dikatakan di atas jugas bahwa generasi Caknur adalah generasi yang telah menyadari secara kritis apa itu modernisme dan juga tradisionalisme kelebihan-kekurangannya. Caknur berdiri melakukan advokasi kesadaran pemikiran keagamaan, kemoderenan dan kenegaraan (baca:indonesia). Posisi yang dipilih caknur adalah posisi dimana ketiga cita-cita ideal tersebut kebangsaan-kenegaraan, kemoderenan dan keagamaan bisa berjalan sejalan tanpa saling meniadakan.

Caknur dan perjuangan basis sosial pada masanya

Secara sosial dan ekonomi, generasi Caknur adalah generasi dimana umat islam sudah mulai memiliki kesadaran untuk “mengambil” bahkan “merebut” peranan pentingnya gerakan ekonomi dalam  membangun kondisi umat islam yang tertinggal. Hal ini memang bukan hal yang baru di mana pernah juga ada beberapa gerakan ekonomi seperti sarekat dagangnya Tjokro (1911) sampai Nahdatut Tujjarnya kalangan tradisionalis (1918). Tetapi generasi ini memiliki ciri khasnya tersendiri yaitu berupa gerakan ekonomi dalam kerangka pembangunan negara-bangsa Indonesia yang modern yang dikawal oleh kekuatan negara itu sendiri (baca: orde baru).

Kesadaran yang dipelopori anak-anak muda ini muncul dalam kondisi dimana pemerintahan Orde-baru pada awalnya lebih mementingkan kalangan asing dan juga pemodal-pemodal besar dalam kebijakannya pada tahun 1968 yang dimaksudkan untuk menghimpun seluruh potensi ekonomi dalam negeri. Kekecewaan ini berpuncak pada pristiwa MALARI 1974 dan di akhiri dengan kebijakan Pelita 2 yang lebih berpihak pada industri kecil dan pertanian daerah yang merupakan basis sosial-ekonomi mayoritas umat islam di Indonesia.

Caknur, lahir sebagai sosok intelektual pada fase kesemuanya ini. Dan sekarang, pertanyaannya adalah. Kita sebagai generasi yang lebih muda lagi sudah berada di fase mana dan sudah melanjutkan perjalanan bangsa ini sampai mana? Apakah sudah semakin maju, atau justru sebaliknya. Semakin mundur. (Shiny.ane)