Jakarta, Parmagz – Mengagumi pemikiran Cak Nur dan nilai-nilai keparamadinaan yang beliau kembangkan, sosok cendekiawan muslim yang berbagi tanggal lahir yang sama dengan saya, adalah salah satu motivasi saya untuk berkuliah di Universitas Paramadina selama 3,5 tahun terakhir. Sejak awal perkuliahan, saya menemukan beberapa hal yang membuat Paramadina lebih unggul dari kampus lainnya, yaitu nilai-nilai keparamadinaan yang mengandung pemikiran progresif Cak Nur mengenai Islam, modernitas, dan peradaban.

Berbagai nilai keparamadinaan tersebut telah memperkuat kebanggaan saya semasa berkuliah di Universitas Paramadina. Sayangnya, saat saya menulis tulisan ini, banyak pihak yang bersikap ahistoris dan mengesampingkan nilai-nilai keparamadinaan yang merupakan warisan Cak Nur dan keunggulan Paramadina dibanding kampus lain. Bahkan salah satu figur ahistoris tersebut mendiskreditkan Universitas Paramadina sebagai tempat “api kontroversi” yang harus “dipadamkan” meskipun beliau sempat dibesarkan dan membesarkan nama Universitas Paramadina di ranah publik. Padahal bila didalami lebih jauh, nilai keparamadinaan merupakan sebuah penyeimbang, terutama di tengah berbagai isu radikalisme, polaritas dan sektarianisme yang marak berkembang di dunia saat ini. Nilai keparamadina adalah sebuah jalan tengah, yang tidak melupakan tradisi dan tidak menolak modernitas.

Beberapa bulan setelah pernyataan ahistoris yang mengklaim kampus kami sebagai tempat “api kontroversi” pada tanggal 17 April 2017 kemarin, teman-teman Serikat Mahasiswa (SEMA) Paramadina mengadakan aksi damai yang menuntut netralitas Universitas Paramadina dalam Pilkada DKI 2017. Mereka juga menuntut klarifikasi atas diskusi publik mengenai Cak Nur dan guru bangsa lain yang kabarnya dibatalkan. Advokasi dari teman-teman SEMA Paramadina pun berbuah pada sebuah audiensi dan pemasangan simbolis spanduk yang menandakan netralitas kampus dalam Pilkada DKI 2017.

Tetapi sesungguhnya di atas semua hal terkait Pilkada DKI tersebut, ada satu kegelisahan yang dapat saya tangkap. Kegelisahan yang menumbuhkan tendensi dalam diri teman-teman SEMA Paramadina untuk bergerak guna mengkawal netralitas kampus dari kepentingan atau nilai yang tidak mewakili Universitas Paramadina. Kegelisahan yang turut saya rasakan sebagai mahasiswa yang akan wisuda dalam beberapa hari ke depan. Kegelisahan akan terkikisnya nilai-nilai keparamadinaan yang disematkan oleh Cak Nur saat beliau membangun kampus kami sebagai kampus peradaban.

Mungkin beberapa dari kita masih bingung, memangnya seperti apa yang dimaksud sebagai nilai-nilai keparamadinaan itu?

Pertama, kita coba pahami sejarah digagasnya Paramadina sebagai Yayasan Wakaf di tahun 1986 yang kemudian juga muncul dalam bentuk Universitas di tahun 1998. Ide pendirian Paramadina awalnya dicetuskan oleh M. Dawam Rahardjo, yang merupakan mantan aktivis HMI Yogyakarta. Selaku direktur lembaga LP3ES di tahun 1980, beliau berupaya untuk membuat sebuah forum agama yang lebih besar dari Majelis Reboan. Maka beliau pun menyampaikan idenya kepada Ekky Syahruddin yang juga mantan aktivis HMI dan Utomo Dananjaya. Ekky akhirnya merumuskan bahwa Paramadina akan dibentuk sebagai wadah yang mengakomodir pemikiran Cak Nur saat beliau pulang dari studi doktornya di Chicago. Kepulangan Cak Nur disambut baik oleh berbagai tokoh ternama.

Setelah berbagai macam perkembangan, belakangan muncul istilah Paramadina untuk menjadi nama wadah pemikiran Cak Nur yang diinisasi Dawam, Ekky dan Utomo tersebut. Nama Paramadina muncul dari para pendirinya, dan memiliki 2 makna. Pertama, Parama dari bahasa sansekerta berarti utama (usulan Cak Nur) dan Dina (usulan Utomo), dari bahasa arab berarti agama. Sementara arti yang kedua adalah Para dari bahasa Spanyol berarti untuk, dan Madina dari bahasa arab berarti peradaban. Kedua makna ini dipertahankan hingga kini untuk memaknai istilah Paramadina.

Dengan menyadari keberagaman dan kearifan budaya lokal Indonesia yang ada, nilai-nilai keparamadinaan muncul sebagai perwujudan nilai-nilai Islam yang universal. Paramadina dirancang sebagai pusat kegiatan keagamaan yang memadukan tradisi dan modernitas. Nilai keparamadinaan yang berlandaskan pada pemikiran Cak Nur bersandar pada dalil usul fiqih : Al-Muhafadzatu ala al-qadim as-salih, yaitu “memelihara yang lama yang baik” (tradisi) dan Wal ahdzu bil-jadid al-ashlah, yaitu “dan mengambil yang baru yang lebih baik”, (modernitas). Sambil tetap merangkul tradisi, Paramadina menjangkau modernitas dengan memberi tempat kepada perkembangan pemikiran rasional.

Dalam arti kata lain, nilai keparamadinaan memahami Islam di indonesia sebagai kekuatan etik/moral dan kekuatan budaya, bukan kekuatan politik. Sebab jika Islam dijadikan kekuatan politik, ia akan menjadi terbatas dan eksklusif. Hal ini juga sesuai dengan slogan “Islam YES, Partai Islam NO” yang digagas Cak Nur di tahun 1970-an.

Selain itu menurut Cak Nur, kemenangan Islam adalah kemenangan ide, bukan kemenangan kelompok. Maka ide-ide seperti keadilan, kesetaraan, dan kebebasan harus diperjuangkan oleh umat Islam bersama-sama dengan kelompok lain. Di sini dapat tersirat jelas bahwa Paramadina bersifat inklusif dan pluralis. Melalui proses perjalanannya yang berliku Paramadina akhirnya dapat berdiri melalui pengkristalan ide-ide hebat, sehingga kini menghasilkan sebuah yayasan (dan kemudian kampus) yang menopang ruang luas untuk toleransi, tradisi, modernitas dan juga nasionalisme yang kini dicakup oleh core values (keIslaman, kemodernan, keindonesiaan) sebagai nilai utama dan core competences (Leadership, Entrepreneurship, Ethics) yang kemudian melengkapinya.

Singkat kata, Paramadina adalah sebuah penyeimbang. Terutama di tengah berbagai isu radikalisme agama yang marak berkembang di konstelasi dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Bila saja lebih banyak lagi orang yang mengetahui dan mengamalkan nilai keparamadinaan, maka akan lebih mudah bagi masyarakat untuk bersikap kritis terhadap polaritas dan isu sektarianisme yang seringkali dipicu oleh kepentingan politik para elit yang mengejar kekuasaan dan kepentingan kelompok. Paramadina dapat menjadi wujud penyeimbang yang memberikan ruang untuk pembelajaran toleransi terhadap perbedaan. Sebagai jalan tengah yang tidak melupakan tradisi, tetapi tidak pula menolak modernitas. Oleh karena itu, menjadi sebuah kesalahan fatal apabila wujud Paramadina sebagai jalan tengah yang terbuka akan tradisi intelektual dan kebebasan ilmiah dipahami sebagai “api kontroversi” yang harus “dipadamkan.”

Advokasi dari teman-teman SEMA Paramadina berbuah pada audiensi dan pemasangan simbolis spanduk sebagai tanda netralitas kampus kami dalam Pilkada DKI. Tetapi, tentu kegelisahan itu masih ada. Karena seperti yang dapat kami rasakan, nilai-nilai keparamadinaan seperti tradisi intelektual dan kebebasan ilmiah mengalami degradasi pemaknaan secara gradual selama beberapa tahun terakhir.

Degradasi pemaknaan nilai yang ada berimplikasi pada tumbuhnya sifat ahistoris yang membuat kami lupa akan nilai keparamadinaan yang menjadi akar kampus kami. Sehingga pada akhirnya terjadi reduksi pemaknaan Universitas Paramadina yang pada awalnya didirikan sebagai kampus peradaban tempat persemaian manusia baru, menjadi sebuah kampus “mainstream” pencetak angkatan kerja yang beroperasi secara pragmatis dan ahistoris pada nilai yang menjadi pilar pendiriannya dulu. Reduksi pemaknaan ini tentu bertolakbelakang dengan nilai keparamadinaan yang seharusnya tidak hanya terbuka untuk menjangkau modernitas, tetapi juga merangkul dan mempertahankan tradisi yang baik.

Seiring dengan semakin dekatnya akhir dunia perkuliahan saya, kegelisahan akan nasib dari nilai-nilai keparamadinaan masih terus menghinggapi diri saya. Kelak saya akan menanggalkan status saya sebagai mahasiswa, tetapi apakah kita, selaku keluarga besar Universitas Paramadina tetap bisa membantu melestarikan nilai-nilai keparamadinaan yang ada? Jawabannya tentu bisa. Semua dimulai dari kepekaan untuk tidak bersikap pragmatis dan ahistoris terhadap nilai-nilai keparamadinaan. Siapakah yang akan mengingatkan masyarakat bahwa Universitas Paramadina ada bukan hanya sebagai kampus pencetak angkatan kerja, tetapi juga sebagai jalan tengah tempat persemaian manusia baru bernilai keparamadinaan? Saya rasa tugas itu bukan tugas yang hanya diemban oleh mahasiswa, tetapi juga oleh seluruh civitas akademika di Universitas Paramadina.

Kelak saat kompetisi semakin intens, nilai-nilai keparamadinaan mampu kita pegang sebagai kompas moral yang membimbing karakter kita sebagai individu terpelajar dan masyarakat madani yang sama-sama membangun peradaban.

Di akhir hari, menyikapi betapa berlikunya proses kristalisasi ide dari nilai-nilai keparamadinaan, serta betapa pentingnya bagi kita keluarga besar Universitas Paramadina untuk mengakui dan menghargai eksistensi nilai keparamadinaan, upaya advokasi yang dilakukan oleh teman-teman SEMA Paramadina patut diapresiasi dan dilanjutkan oleh seluruh civitas akademika Universitas Paramadina.

Semoga terlepas dari dinamika politik apapun yang terjadi, keluarga besar Paramadina tetap setia mengawal keberlanjutan nilai-nilai keparamadinaan yang telah Cak Nur tanamkan sebagai akar kampus peradaban kita.