Jakarta, Parmagz – Tahun 2012 lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tanggal 20 Maret sebagai International Day of Happiness atau Hari Kebahagiaan Sedunia dengan Jayme Illien sebagai penggagasnya. Seperti yang dipaparkan Illien dalam situs resmi hari perayaan ini, tujuan dari perayaan hari kebahagiaan ini ialah sebagai kesempatan untuk mempertanyakan atau mempertimbangkan hal apa yang dapat membuat seseorang bahagia.

Lembaga riset World Happiness Report tahun 2018 ini mengeluarkan laporan peringkat negara-negara dengan penduduk terbahagia sedunia. Menjajaki tangga teratas, negara terbahagia dianugerahkan pada Finlandia sebagai negara dengan penduduk paling bahagia sedunia. Kemudian Norwegia, yang pada tahun lalu menjadi posisi pertama. Disusul Denmark, Islandia, Swiss, Belanda, Kanada, Selandia Baru, Swedia dan Australia. Indonesia berada pada posisi ke-96 dari 156 negara yang disurvei.

Negara-negara Skandivania yang berhasil meraih predikat penduduk terbahagia tersebut, dikarenakan oleh beberapa faktor, antara lain gaya hidup masyarakat yang cenderung sehat dan terutama berkat bantuan berbagai program dari pemerintah yang menjamin kesejahteraan warganya.

Tapi, jika ditengok lebih jauh dari apa yang dicita-citakan oleh perayaan Hari Kebahagiaan ini, kita bisa mengajukan pertanyaan, apakah yang sebenarnya membuat orang bahagia?

Setiap orang pasti memiliki pengertian kebahagiaan masing-masing. Jika satu-satu ditanya “apa itu kebahagiaan?”, bisa jadi akan banyak yang menjawab, kebahagiaan adalah ketika memiliki banyak uang, memiliki banyak teman, karir yang bagus, hubungan yang baik dengan pasangan, dan lainnya sebagainya. Tapi, dari jawaban itu akan kembali muncul pertanyaan, “Apakah jika hal-hal tersebut tidak ada dalam kehidupan seseorang lantas dia menjadi tidak bahagia?”.

Untuk mengetahui apa itu sejatinya kebahagiaan bagi manusia, seorang filsuf yang hidup pada masa keemasan Yunani, Plato, jauh-jauh hari sudah merumuskannya. Jika saya hubungkan dengan teori Plato yang dikutip dari Plato’s Ethics and Politics in The Republic dalam Stanford Encyclopedia of Philosophy, kebahagiaan-kebahagiaan yang bersifat materil, seperti yang disebut di atas, hanyalah kebahagiaan yang bersifat sementara (eksistensial) dan intisari kebahagiaan itu sendiri adalah sesuatu hal yang tidak bisa terindra (metafisik) oleh manusia. Lebih jauh menurut Plato, Jiwa manusia terbagi ke dalam tiga bagian, yakni bagian rasionalitas (akal budi), semangat, dan nafsu-nafsu biologis.

Ketiga bagian tersebut saling berlomba untuk mengatur keseluruhan hidup manusia. Jika bagian akal budi menang, maka ia akan menjadi manusia yang rasional. Jika bagian semangat yang menang, maka ia akan menjadi orang yang berani. Akan tetapi jika bagian nafsu-nafsu yang juara, maka ia akan menjadi orang yang diperbudak oleh nafsu-nafsunya tersebut. Dan menurut Plato, pada hakikatnya kebahagiaan manusia bukanlah soal memenuhi semua keinginan yang sifatnya materil, tetapi ketika manusia bisa menyelaraskan ketiga bagian tersebut menjadi sebuah harmoni. (nur/mfa)