552d35710423bd10618b4567

Universitas Paramadina memiliki tujuan yang diterangkan dalam manifestonya, yakni mencetak sarjana yang memiliki kedalaman iman, keluasan wawasan, kemandirian jiwa, ketajaman nalar, kepekaan nurani, dan kecakapan berkarya. Oleh karena itu, sistem pendidikan yang ada di Universitas Paramadina dirancang untuk mencapai cita-cita tersebut. Sejak awal penerimaan, mahasiswa baru disambut dengan Grha Mahardika Paramadina (GMP) sebagai gerbang yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai Keparamadinaan dan mengader mereka menjadi manusia baru dengan karakter yang kuat.

Kepekaan nurani menjadi satu dari enam kualitas yang ingin dicapai oleh Universitas Paramadina dalam pembentukan karakter mahasiswanya. Hal ini dapat dikatikan dengan Tri Dharma perguruan tinggi ketiga, yaitu pengabdian. Namun, apakah cita-cita ini sudah tertanam dalam pribadi mahasiswa Paramadina? Apakah mahasiswa kampus peradaban sudah memiliki kepekaan nurani sesuai dengan yang cita-cita universitas?

Sama seperti nilai-nilai lainnya, hal ini akan kembali kepada individu tersebut karena watak setiap individu berbeda-beda. Melihat gambaran dari mahasiswa di Universitas Paramadina sehari-hari, kepekaan nurani menjadi nilai yang rentan untuk ada dan tiada. Jika mendalami Organisasi Kemahasiswaan Universitas Paramadina (OKUP), kita akan mendapati adanya divisi sosial atau pengabdian yang memfasilitasi kegiatan mengabdi anggotanya. Namun hal itu cenderung menjadi formalitas akan Tri Dharma perguruan tinggi semata. Semestinya, kepekaan nurani ada tidak hanya dilakukan untuk program bakti sosial besar. Kepekaan nurani harusnya bisa didapati dari hal-hal kecil seperti kepedualian mahasiswa terhadap orang-orang di lingkup kampus, seperti ISS, satpam, sampai penjual di kantin. Jika melihat interaksi antara mahasiswa dan ISS, kepekaan nurani mahasiswa Paramadina bisa dibilang masih kurang cukup baik. Bagaimana tidak? Mahasiswa Paramadina seperti selalu mengandalkan ISS untuk membersihkan sampah yang mereka tinggalkan. Padahal tidak sulit untuk membuang sampah seperti plastik atau bungkus wadah ke tempat sampah yang sebenarnya sudah disediakan di seluruh penjuru kampus. Mahasiswa seakan lupa bahwa sebenarnya kepekaan nurani bisa diekspresikan dari hal-hal kecil seperti itu. Sesederhana menyapa petugas keamanan, membersihkan sampah sendiri, dan mengucapkan terima kasih kepada petugas kantin.

Kendati demikian, tidak semua mahasiswa Paramadina bertingkah seperti itu. Terbukti dengan banyaknya mahasiswa yang akrab dengan petugas keamanan dan kebersihan, yang aktif dalam kegiatan sosial baik di dalam maupun di luar kampus. Jika dilihat dari alumninya, bisa dibilang cita-cita Universitas Paramadina untuk menciptakan sarjana yang memiliki kepekaan nurani sudah tercapai. Sebut saja Shei Latiefah, jurusan Ilmu Komunikasi, yang menginisiasi gerakan Save Street Child dan peduli pada pendidikan anak-anak jalanan. Sekarang Save Street Child sudah menyebar hingga ke 17 kota di Indonesia. Tidak sedikit juga alumni yang menjadi pengajar muda untuk Indonesia Mengajar. Aba banyak pula yang tergabung menjadi relawan dalam organisasi-organisasi lain seperti Israruddin, Ilmu Komunikasi 2011, yang tergabung dalam Sahabat Pulau. Keikutsertaannya pada organisasi ini sudah dimulai sejak didirikannya Sahabat Pulau pada bulan Maret 2012.

“Tadinya iseng nyari kegiatan di luar kampus. Lalu ketemu dengan teman-teman Sahabat Pulau, akhirnya memutuskan gabung sebagai relawan dengan ngajar di Rumah Baca di Salemba, Jakarta Pusat,” ungkap Israruddin pada Kamis (21/4).

Ketika ditanya mengenai kepekaan nurani, menurutnya kepekaan nurani itu timbul dengan banyaknya interaksi yang kita lakukan. Kampus sudah cukup mengajarkan mahasiswanya tentang kepekaan nurani, ada program-program seperti Mahasiswa Mengabdi yang walaupun belum menjangkau mahasiswa yang lebih banyak.

“Tapi sebenarnya kepekaan nurani bisa dipelajari dari mana saja, dari nasehat dosen di sela-sela kuliah hingga bapak satpam yang kerap membantu mahasiswa memanggil taksi ketika hujan. Tapi banyak mahasiswa yang take it for granted untuk hal-hal seperti ini hingga pekanya hilang,” tambahnya.

Memang masih banyak mahasiswa Paramadina yang belum memperhatikan dan menganggap sepele hal-hal kecil di sekitar mereka. Kepedulian terhadap sekitar masih perlu dilatih. Program pengabdian memang sudah tersedia di kampus peradaban ini, namun nyatanya masih belum cukup baik dalam mengajak mahasiswa turut serta dalam program tersebut. Mahasiswa Mengabdi pun sebenarnya merupakan program gabungan dengan Institut Pertanian Bogor, yang mana bukan menjadi program independen Universitas Paramadina. Walaupun banyak alumni maupun mahasiswa aktif yang kemudian berkecimpung menjadi relawan, itu disebabkan oleh pribadi mereka yang memang sudah terbilang peka terhadap lingkungan sekitar. Jika memang Universitas Paramadina ingin menciptakan sarjana yang memiliki kepekaan nurani sebagai salah satu wataknya, diperlukan usaha dan cara yang lebih nyata. Mengapa kampus kita tidak melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau mewajibkan seluruh mahasiswanya terjun dalam Mahasiswa Mengabdi jika memang ingin mencetak sarjana yang mempunyai kepekaan nurani?

Meskipun begitu, sekali lagi, kepekaan nurani tidak hanya tumbuh dari seberapa sering kita keluar untuk membantu orang-orang, tapi juga dilihat dari bagaimana kita berinteraksi dan menghormati orang-orang di sekitar kita. Hal-hal kecil seperti itulah yang sebenarnya akan berpengaruh besar kepada kepekaan nurani seseorang. (as)

 

Opini ini diterbitkan di Parmagz Post Tempel edisi April 2016.