Jakarta, Parmagz – Faust, lakon yang telah dibawakan oleh Kafha (Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Paramadina) dalam pertunjukannya pada Jumat (25/8) malam di Gelanggang Remaja Jakarta Selatan (GRJS), Bulungan, Jakarta.

Faust adalah sebuah karya dari Johan Wolfgang von Goethe, seniman berkebangsaan Jerman. Sedangkan Faust itu sendiri merupakan seseorang intelektual yang hampir seluruh hidupnya menghabiskan waktu untuk mencari makna pengetahuan dan kehidupan. Di saat keputusannya mencari kebenaran, ia melakukan persekutuan dengan seorang iblis bernama Mephisto. Perjanjian pun terjadi, persekutuan antara Faust dan Mephisto mengantarkan Faust jatuh hati pada seorang perempuan bernama Margaretha.

Parmagz berhasil mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara langsung dengan orang yang berperan besar di dalam lakon ini yaitu dengan sutradara Faust, Mariyo Suniroh, atau yang biasa disapa dengan mas Mayo.

Faust dipilih untuk diangkat untuk menjadi sebuah pertunjukan berawal dari obrolan di warung kopi antara Mariyo Suniroh dengan Profesor Abdul Hadi W. M., membahas isu politik, isu pilkada DKI Jakarta 2017, dan sebagainya. Lalu sebuah pertanyaan muncul tentang kisah apa yang paling cocok untuk disangkut pautkan dengan isu di masa sekarang, dan Profesor Abdul Hadi W. M. Memberikan sebuah ide, “Ya, Faust”.

“Proses penggarapan Faust dimulai sejak bulan Maret. Proses naskah memakan waktu hingga bulan Mei, naskah memerlukan waktu yang cukup lama karena naskah aslinya berbahasa Jerman, dan perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia disertai dengan beberapa proses diskusi agar tetap sesuai konteks. Perlu bekali-kali revisi, konsultasi dengan seniman yang pernah pentas dan mempertahankan keterkaitan dengan konteks.” Jelas Mariyo saat ditanya proses penggarapan Faust.

Ravi Septrian kemudian terpilih menjadi orang yang memerankan tokoh Faust oleh sang sutradara. Didasari dari pertimbangan estetik, Ravi memiliki banyak potensi, baik secara pemikiran, secara karya, dan secara teknis.

Banyak orang terlibat dalam penggarapan Faust, melibatkan rekan-rekan yang berasal dari komunitas dari luar kampus Paramadina, salah satunya Sintesa. Ada banyak pertimbangan produksi, ada banyak pula orang dalam kampus yang terlibat, seperti salah satunya Paramadina Choir yang menjadi pemusik dalam teater Faust ini. Mariyo mengakui perlu waktu yang panjang jika soal idealisme, namun ternyata penggarapan sejak Maret tetap dapat menghasilkan karya yang sukses.

Banyak orang menilai ini adalah teater yang sukses, lakon yang begitu apik. Sudah terlihat dari banyaknya orang yang mengapresiasi langsung, mengucapkan selamat kepada Mariyo ketika wawancara sedang dilakukan. Bukan hanya itu, terdapat pula penonton yang merasa puas, dantidak menyesal setelah menonton lakon ini.

Menurut pengakuan Daffa Okta Fadhilah, mahasiswa Institut Kesenian Jakarta “Poster Faust adalah poster yang keren dan membuat orang yang melihatnya tertarik untuk mencari tahu apa yang ada. Dan ternyata benar, lakonnya luar biasa”

Dari sini, terbuka peluang untuk hadirnya Faust sekuel kedua. Beberapa orang pun mengharapkan hal yang sama dengan hadirnya sekuel Faust, dengan pembawaan isu yang paling terbaru tentunya. Dan Kafha diharapkan dapat mempertahankan kualitasnya ini, bahkan terus berinovasi, meningkatkan kualitasnya yang semakin humanis dan turut meningkatkan martabat manusia melalui ilmu pengetahuan dan karya.

(ef)