Poster Ada Apa Dengan Cinta 2. (Foto cinemaxxtheater Twitter)

Poster Ada Apa Dengan Cinta 2. (Foto cinemaxxtheater Twitter)

Jika menyebutkan Cinta dan Rangga yang pertama kali terbesit di kepala pastilah film Ada Apa Dengan Cinta. Film yang rilis tahun 2002 ini menjadi salah satu film legendaris sebagai kisah cinta paling romantis pada eranya. Pada tanggal 28 April 2016 kemarin, Miles Films resmi merilis sekuel AADC dengan judul Ada Apa Dengan Cinta 2 yang serentak ditayangkan di seluruh bioskop Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Antusias para penonton yang tinggi dapat kita lihat dari catatan 200.000 penonton pada hari perdana penayangannya dan baru saja menembus rekor satu juta penonton dalam rentan waktu empat hari. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan bagi film Indonesia. Sekuel yang telah ditunggu-tunggu oleh penggemarnya selama kurang lebih 14 tahun ini menjawab seluruh pertanyaan yang masih terasa menggantung setelah Rangga pergi ke New York pada tahun 2002.

Ada Apa Dengan Cinta 2 arahan sutradara Riri Riza ini menjadi film yang paling diantisipasi penonton semenjak awal proses syuting akhir tahun lalu. Setting latar belakang film ini mengambil tempat di New York, Jakarta, dan sebagian besar di Yogyakarta. Dalam sekuel ini kita dapat menyaksikan bagaimana masing-masing karakter berkembang kepribadiannya. Banyak peristiwa off-screen yang terjadi selama 14 tahun terakhir turut membentuk karakter Cinta (Dian Sastrowardoyo), Rangga (Nicholas Saputra), dan lainnya menjadi lebih matang dan dewasa. Tidak ketinggalan para supporting role di AADC 2 turut andil dalam membangun suasana dan emosi dari plot cerita yang sudah kuat dari awal. Keseluruhan cerita akan terasa sangat datar dan monoton jika tidak ada mereka. Mira Lesmana sebagai penulis skenario dengan terampil menyelipkan humor-humor ringan diantara dialog para karakter membuat para penonton tertawa karena mereka ikut merasakan kedekatan humor tersebut dengan keseharian mereka. Tidak lupa beberapa narasi Nicholas Saputra dengan perlahan mendeklamasikan puisi menambah magis suasana dengan timbre berat khas Rangga.

Nicholas Saputra dan Dian Sastrowadoyo dalam Ada Apa Dengan Cinta 2. (Foto Primeworks Studio via star2.com)

Nicholas Saputra dan Dian Sastrowadoyo dalam Ada Apa Dengan Cinta 2. (Foto Primeworks Studio via star2.com)

Teknik sinematografi serta pengambilan angle gambar yang beberapa kali berfokus pada micro expression para karakter ini turut serta menaikturunkan emosi penonton berulang-ulang, didukung oleh keindahan alam Yogyakarta dan sekitarnya memanjakan mata para penonton dari awal hingga akhir film. Dari sunset di Istana Ratu Boko hingga sunrise di bukit Punthuk Setumbu dimana kita dapat melihat sebuah gereja berbentuk Ayam yang menjadi saksi bisu perbincangan hati antara Cinta dan Rangga yang dieksekusi secara apik dan indah. Seluruh aspek tersebut kemudian dikawinkan dengan lantunan scores dan soundtrack yang digarap oleh Anto Hoed dan Melly Goeslaw menciptakan keseluruhan film yang sempurna.

Menurut saya sebagai penonton, film ini sangatlah menarik. Saya mencoba untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi ketika memutuskan untuk menonton film ini dan menikmati alur ceritanya saja namun ada beberapa bagian cerita dan adegan dalam film ini yang di luar ekspektasi saya membuat saya banyak terkejut ketika menonton. Persahabatan Cinta dan kawan-kawan yang tetap solid dari SMA hingga satu persatu dari mereka berkeluarga, Rangga yang dulu kita kenal sebagai sosok yang mudah marah dan saklek berubah menjadi sosok yang lebih dewasa, serta sosok Cinta yang masih sama bersikap tidak peduli padahal peduli. Kita pula diajak untuk belajar tentang memaafkan dan mempertanyakan kembali hati kita siapa yang sebenarnya kita cintai. Ada Apa Dengan Cinta 2 bisa menjadi tontonan pilihan bagi anda yang menyukai genre romantis yang ringan tanpa drama berlebihan. (ris)