Di bawah rezim Orde Baru, bisa mengakses buku-buku bacaan bagi mahasiswa adalah suatu kememawah tiada tara. Suharto sang diktator fasis dengan begitu represifnya melarang peredaran berbagai macam buku bacaan yang dianggapnya bisa mempengaruhi alam pikir generasi muda saat itu, sehingga nantinya mereka akan fasih mengkritik kekuasaannya.

Tetapi usaha Suharto tidak berjalan sempurna begitu saja, semakin dikekang, anak-anak muda jaman itu justru makin tertantang. Makin dilarang suatu buku, makin merasa garang bagi siapa saja yang bisa membacanya.

Pada masa itu, membaca bukan saja menjadi senjata perlawanan untuk mengkritik penguasa, melainkan membaca itu sendiri di bawah bayang-bayang Orde Baru, adalah sebuah perjuangan yang harus ditempuh berdarah-darah, tidak sedikit aktivis kala itu yang diperjara hanya karena buku.

Nezar Patria, salah satu aktivis pentolan ‘98 yang sempat ditangkap dan dikurung selama sebulan, sebelum lalu dibebaskan tepat pada masa keruntuhan rezim Suharto. Dalam wawancaranya dengan redaksi Pocer.co ia menceritakan beragam perjuangan yang mereka tempuh dalam memperoleh akses buku bacaan, tidak hanya sebatas itu, setelah mendapatkan bukunya, mereka harus kembali berjuang untuk menggandakannya. Untuk mendapat buku-buku itu mereka harus menelusuri berbagai perpustakaan atau jalan lainnya, seperti meminta tolong untuk dibawakan buku oleh teman-teman mereka yang menempuh pendidikan di luar negeri.

Karena dalam bayang-bayang Orde Baru demokrasi hanya isapan jempol belaka. Buku-buku politik adalah yang paling digemari mahasiswa, walaupun buku-buku filsafat, sejarah dan sastra dan teori-teori pergerakan alternatif lainnya juga ramai dicari, buku-buku novel sejarah ciamik macam karangan Pramoedya tidak luput diburu.

Dalam menggambarkan betapa membaca adalah sebuah perjuangan, Nezar misalnya berkisah soal pembacaan novel Tetralogi Buruh-nya Pramoedya, setelah ketemu satu buku, satu novel akan digandakan dengan mesin pencetak (fotocopy) dengan cara dipisah per bab. Mengapa? Agar di antara teman-teman mereka bisa membacanya secara bergantian, dan sialnya kata Nezar, ada yang kebagian membaca dari bab 5 dulu atau malah dari belakang ke depan.

Dengan tekanan rezim otoriter yang begitu kuat, serta keterbatasan bahan bacaan, kualitas membaca para mahasiswa pada masa itu begitu mendalam, ketika membaca, mereka benar-benar memahami apa yang mereka baca, secara menyeluruh dan mendalam. Tentu saja, seluruh buku atau bahan bacaan apapun pasti dilahap sampai khatam.

Oleh sebab itu, pada masa pergerakan dulu, diskusi-diskusi berkualitas yang menentang ketidakadilan banyak dicetuskan, sebab mereka punya basis teori konseptual kuat yang didapat dari bacaan buku mereka. Tak puas hanya sampai tahap diskusi, merekapun merencanakan pergerakan melawan kezaliman dengan apik.

Namun demikian, meski kala itu banyak mahasiswa yang tetap tertantang untuk mengakses buku bacaan dengan cara-cara yang mendebarkan dan sembunyi-sembunyi dengan konsekuensi masuk bui, tetap saja, jumlah mahasiswa yang mau bersuara, tetap bisa dihitung jari. Ringkasnya, yang membaca tidak lebih banyak daripada mereka yang berani bersuara.

Kondisi itu saya simpulkan dari penggalan puisi Apa Guna-nya Wiji Thukul, salah satu puisinya yang masih populer di kalangan milenial dan gen-z macam kita, apalagi setelah dinaik-daunkan kembali oleh film biografi Wiji, Istirahatlah Kata-kata, kurang lebih begini bunyinya,

Apa gunanya banyak baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu

Dalam penggalan puisi itu, Wiji menggambarkan banyak orang yang meski dengan segala keterbatasan aksesnya masih tertantang untuk baca buku. Namun, hanya sedikit saja di antara mereka yang berani melepas kebungkaman dengan mengomentari dan mengkritik rezim orba. Dan Wiji tidak diragukan lagi adalah salah satu dari yang sedikit itu.

Pertanyaannya, mengapa mereka takut untuk membuka mulut? Begini saja, sekarang bayangkan, jika ketahuan membaca buku-buku terlarang saja bisa dibui, bagaimana jikalau terang-terangan tertangkap basah mengomentari dan mengkritik pemerintah dan ketidakadilan-ketidakadilan yang dilakukannya? Nasib paling bagusnya seperti Nezar yang sempat dipukul dan disekap selama satu bulan dan lalu dibebaskan. Tetapi, nasib terburuknya seperti Wiji Thukul, diculik dan dihilangkan paksa tanpa pernah kembali dan tak ada yang tahu rimbanya sama sekali.

Lain dulu lain saat ini. Pada tahun 2016 lalu, tepatnya bulan Maret, Central Connecticut State Univesity merilis studi bertajuk The World’s Most Literate Nations (WMLN) yang menayangkan urutan minat baca 61 negara di dunia, dan Indonesia, negara kita tercinta berada pada urutan ke-60, peringkat kedua dari bawah, satu tingkat di atas Botswana, dan persis di bawah Thailand. Alih-alih meningkat pasca reformasi, minat baca kita justru merosot tajam. Apa yang terjadi dengan minat baca kita hari ini?

Padahal, jika dilihat dari insfrastruktur yang ada, menurut Kemendikbud tahun lalu (27/08/2016), “Penilaian berdasarkan komponen infrastruktur Indonesia ada di urutan 34 di atas Jerman, Portugal, Selandia Baru dan Korea Selatan.” Artinya, akses terhadap buku sekarang ini sudah tidaklah lagi menjadi susah, alih-alih seperti zaman Orde Baru dulu, buku apa-saja kini sudah bisa diakses di perpustakaan-perpustakaan daerah, sekolah, kampus bahkan di gawai kita masing-masing. Sungguh akses terhadap bacaan sudah sangat terbuka sekarang ini.

Kehadiran gawai  yang seharusnya mempermudah akses kita terhadap bacaan, justru malah menjadi tantangan tersendiri untuk bisa meningkatkan daya dan minat membaca buku fisik dengan tenang, fokus, tuntas dan mendalam. Sebuah studi lain dari Universitas Victoria di Selandia Baru bertajuk Is Google Making Us Stupid? The Impact of the Internet on Reading Behaviour, memaparkan bahwasanya pembaca buku fisik cenderung lebih baik dalam hal daya konsentrasi, pemahaman, penyerapan dan daya ingat dibanding para pembaca daring.

Sedangkan, menurut data e-Marketer yang dikutip Kominfo pada tahun 2016, menerangkan bahwa Indonesia adalah pengguna internet terbesar ke-6 di seluruh dunia. Pantas saja jika daya dan minat baca bangsa Indonesia menurun seiring dengan menurunnya kemampuan konsentrasi, penyerapan dan daya ingat terhadap bacaan kian tahun, beriringan dengan meningkatnya penggunaan internet.

Salah satu keresahan yang berkebalikan dengan yang terjadi di zaman Orde Baru adalah jika dulu orang harus berpikir dua-tiga puluh kali terlebih dahulu sebelum berkomentar dan berkoar-koar di muka umum, saat ini melalui media sosial siapa saja dapat berkomentar dan mengomentari apa saja, bahkan bisa seenaknya mencaci-maki, menebar kebencian serta berita bohong, tanpa peduli sama sekali isi dari ucapannya. Dan umumnya yang kita dapati, jika seseorang malas membaca, maka omongannya tidak akan berisi apa-apa kecuali omong kosong itu sendiri.

Zen RS, salah satu esais idola saya, dengan singkat dan gamblang memaparkan kondisi kita di era media sosial sekarang ini. Ia menyebut bahwa, “yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar.” Saya sepakat sepenuhnya dengan Mas Zen, kualitas komentar, kritik, tulisan, ucapan atau apapun yang terlontar dari kita, berbanding lurus dengan apapun yang kita baca. Isi otak kita bukanlah ketoprak ataupun kebab, tetapi bacaan.

Ada dua hal yang seharusnya dimiliki oleh bangsa kita dengan ‘kemewahan’ seperti sekarang ini, pertama adalah minat dan daya baca yang tangguh. Dengan membaca secara baik, kita akan terlebih dahulu memiliki teori konseptual dalam menilik dan memandang segala hal.

Kedua adalah mulut dan tubuh yang tidak pernah berhenti untuk mengomentari, mengkritik kekacauan keadaan, pemerintah dan segala macam ketidakadilan yang ada, dengan berisi dan bermutu tinggi. Meskipun yang terjadi sekarang adalah kebalikannya, saya berharap itu masih mungkin terjadi.

Sebab, jika daya dan minat baca kita terus-menerus seperti sekarang ini, sedangkan minat komentar kita semakin meninggi, maka komentar dan kita sendiri hanya akan menjadi sampah wacana di tengah-tengah gunungan informasi yang membanjiri kita. Satu kiat sukses berkomentar dari saya:

Mikir!

(mfa)