Kalijodo kini menjadi kawasan positif bagi warga DKI Jakarta. (Foto: Yuriansyah Z)

Kalijodo kini menjadi kawasan positif bagi warga DKI Jakarta. (Foto: Yuriansyah Z)

Jakarta, Parmagz – Masih ingatkah  Anda dengan Kalijodo yang dulunya terkenal sebagai tempat prostitusi? Kalijodo berlokasi di sepanjang bantaran Banjir Kanal Timur (BKT), tepatnya di Jalan Kepanduan II, Penjaringan, Jakarta Utara. Daerah ini dikenal sebagai tempat sarana hiburan malam dan bisnis prostitusi untuk kelas bawah. Daerah ini memiliki lima Rukun Tetangga dalam satu Rukun Warga yang menjadi terkenal karena menjadi sorotan dalam film yang berjudul Ca Bau Kan.

Kalijodo berasal dari dua kata dalam bahasa Indonesia, yaitu Kali dan Jodoh. Dahulu tempat ini menjadi salah satu perayaan budaya Tionghoa bernama Peh Cun, yaitu perayaan hari keseratus dalam kalender Imlek. Peh Cun juga mempunyai sebuah tradisi adalah pesta air, karena pesta ini dianggap menarik perhatian bagi orang-orang Tionghoa khususnya kalangan anak muda dan dibiayai oleh orang-orang berada di kalangan etnis tersebut. Tradisi ini diikuti oleh sebagian muda-mudi yang sama tujuannya yakni menaiki perahu yang melintasi Kali Angke. Setiap perahu tersebut diisi oleh tiga hingga empat orang baik laki-laki maupun perempuan.

Jadi, setiap laki-laki yang senang dengan perempuan yang diinginkannya, ia akan melemparkan sebuah kue khas Tionghoa yaitu Tiong Cu Pia, kue yang terbuat dari campuran tepung terigu yang di dalamnya terdapat isi kacang hijau. Tradisi ini terus berlanjut hingga dihentikan sejak tahun 1958 pada masa pemerintah Walikota Jakarta, Soediro. Tradisi ini dianggap tidak sesuai dengan peraturan yang ada.

Berbeda dengan versi lainnya, daerah ini pada awalnya sudah merupakan wilayah prostitusi terselubung sejak tahun 1600, di mana banyak orang yang melarikan dari Manchuria ke Batavia, lalu mencari seorang istri sementara atau disebut dengan gundik. Para calon istri sementara ini berasal dari mayoritas yang didominasi oleh perempuan lokal, yang akan berusaha menarik laki-laki etnis Tionghoa tersebut dengan menyanyikan sebuah lagu klasik Tionghoa di atas perahu yang tertambat di pinggiran kali. Kendati demikian, aktivitas di daerah Kalijodo masih berlangsung dengan melakukan hubungan seksual melalui transaksi uang, dan utamanya lagi adalah menghibur dan mendapatkan penghasilan.

Tembok unik yang didesain dengan perpaduan banyak warna menjadi daya tarik sendiri bagi pengunjung untuk berfoto. (Foto: Yuriansyah Z)

Tembok unik yang didesain dengan perpaduan banyak warna menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung untuk berfoto. (Foto: Yuriansyah Z)

Oleh karena itu, pada masa pemerintahan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Kalijodo sebenarnya sudah direncanakan untuk dilakukan penertiban sejak tahun 2014 dengan alasan tempat ini akan dijadikan jalur terbuka hijau bagi sebagian masyarakat kota Jakarta. Namun, ditunda karena menunggu penertiban Waduk Pluit selesai dilaksanakan. Dan akhirnya pada tanggal 29 Februari 2016, penduduk Kalijodo direlokasi dengan melibatkan 5000 personel Polri, 2500 personel Satpol PP, dan 400 personel TNI.

Setelah relokasi berjalan, Pemprov DKI Jakarta membangun sebuah kawasan Kalijodo yang bekerja sama dengan pihak pengembang swasta untuk melakukan pekerjaan dalam beberapa proyek yang telah ditentukan. Salah satunya adalah Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Hingga akhirnya diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada tanggal 22 Februari 2017. Kini, masyarakat DKI Jakarta sudah dapat menikmati sarana dan prasarana yang ramah lingkungan. (yz)