Bukan lagi pemandangan ganjil ketika melihat para pengendara motor memanfaatkan fasilitas pedestrian, khususnya di Ibukota. Hal ini terjadi di salah satu trotoar di Jalan Tegal Parang Utara, Mampang, Jakarta Selatan. Trotoar tersebut baru saja diperbaiki dan dibangun ulang pada awal tahun 2016. Akan tetapi, kondisinya kini sudah tidak lagi sebaik dulu karena para pengendara motor juga ikut “menikmati” sarana tersebut.

Kemecetan yang kerap kali terjadi di Jalan Tegal Parang Utara, khususnya di pagi hari, membuat jalan raya penuh sesak dan tak jarang menjadi satu arah. Terkadang, para pengendara yang ingin menuju Tegal Parang tidak diberi jalur oleh mereka yang ingin menuju arah Blok M maupun Kuningan, sehingga kemacetan menjadi semakin parah. Hal itulah yang mendasari para pengendara motor mengambil jalur trotoar untuk menghindari macet. Akan tetapi, tanpa mereka sadari, perbuatan tersebut mengganggu kenyamanan pedestrian yang juga sedang terburu-buru untuk pergi ke tujuan mereka.

Sampai hari ini, Jakarta memang belum terhindar dari kemacetan. Tampaknya, hal itu pun sudah tak asing lagi bagi mereka yang menetap di Jakarta dan sekitarnya. Seharusnya, hal itu menjadi pemahaman tersendiri bagi pengendara untuk mengatur strategi dalam menggunakan fasilitas jalan, seperti berangkat lebih pagi atau mematuhi rambu lalu lintas supaya tertib, bukan membajak jalur pejalan kaki menjadi jalur pribadi mereka. Kondisi ini justru membuat para pedestrian dipaksa “memahami” dan “memaklumi” kondisi kemacetan yang terjadi hingga membuat para pengendara motor mengambil jalur trotoar. Ditambah lagi, perilaku para pengendara motor tersebut sering kali tidak etis, seperti membunyikan klakson kencang-kencang kepada pedestrian yang sedang berjalan di trotoar karena sempitnya jalur yang membuat motor tersebut tidak bisa lewat.

Entah logika berpikir apa lagi yang digunakan oleh pengendara motor tersebut. Sudah jelas trotoar disediakan untuk para pedestrian, mengapa mereka masih saja menggunakan fasilitas tersebut seolah-olah mereka memang memiliki hak untuk menggunakannya? Padahal, pada Peraturan Pemerintah No. 34  Tahun 2006 tentang Jalan, ditegaskan pada ayat 4 tentang fungsi dari trotoar sebagi berikut:

 “Trotoar sebagaimana dimaksud pada ayat (3) hanya diperuntukkan bagi lalu lintas pejalan kaki.”

Hakikatnya, peraturan dibuat bukan untuk dilanggar. Akan tetapi, banyak orang beralasan tidak mengetahui peraturan tersebut sehingga merasa ‘berhak’ melanggar. Padahal, secara universal, masyarakat tahu bahwa trotoar memang diperuntukkan bagi pedestrian, terlebih hal itu tercantum dalam Peraturan Pemerintah atau tidak. Hal yang perlu dipertanyakan dalam kondisi ini adalah ke mana perginya etika para pengendara motor yang dengan sengaja membajak trotoar menjadi jalurnya? Hal itu bukan lagi tentang benar atau salah, tetapi baik atau buruk. Apakah baik jika mereka menggunakan fasilitas bagi para pedestrian sebagai jalurnya? Apakah hal itu tidak menyalahi hati nuraninya? Bukan sekadar tentang sopan dan santun, tetapi kesadaran mereka tentang baik dan buruk ketika melakukan hal tersebut.

Trotoar dibangun agar para pedestrian tidak mengganggu aktivitas para pengendara motor saat menggunakan jalan. Itu mengapa, ukurannya lebih sempit dari jalan raya pada umumnya. Hal ini bertujuan agar para pedestrian dapat menggunakan fasilitas dengan nyaman dan aman. Bayangkan jika para pengendara motor juga menggunakan fasilitas trotoar, apakah hal itu dapat menjamin keselamatan para pedestrian?

Dalam Pasal 284 Pelanggaran Lalu Lintas menyebutkan,

“Tidak mengutamakan keselamatan pejalan kaki atau pesepeda; Pidana Kurungan Paling Lama 2 (dua) bulan atau denda Paling Banyak Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah).”

Itu mengapa, keselamatan dan kenyamanan merupakan dua hal penting yang harus diutamakan ketika kita memanfaatkan fasilitas lalu lintas. Trotoar, jalan raya, jembatan penyeberangan, adalah sarana umum yang dibangun untuk memudahkan kita dalam beraktivitas. Oleh karena itu, gunakanlah fasilitas yang tersedia sebaik-baiknya dan saling menjaga keselamatan serta kenyamanan antar para pengguna jalan. Jangan sampai, ketidaktertiban kita meresahkan banyak orang dan menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan. (lail)