Judul Film: Istirahatlah Kata-kata
Produser: Yosep Anggi Noen, Yulia Evina Bhara, Tunggal Pawestri, Okky Madasari
Sutradara & Penulis Naskah: Yosep Anggi Noen
Produksi: Muara Foundation, Kawan Kawan Film, Partisipasi Indonesia, Limaenam Films.

Saya paling tidak bisa menolak tawaran untuk dua hal, ditraktir makan dan nonton film. Sudah semenjak pertengahan UAS, saya bertekad akan menonton film di Bioskop selepas Ujian Akhir usai. Seperti botol bertemu tutupnya, tekad saya bersambut. Beberapa hari sebelum hari terakhir UAS, saya mendapat tawaran untuk ditraktir nonton film, tentu saja di bioskop, bukan di laptop! Ahai, tentu saja saya tidak menyia-nyiakannya.

Meski dalam beberapa hari terakhir review film yang akan saya tonton ini bersliweran di timeline Facebook dan Twitter saya, namun saya memiliki pegangan bahwa tak akan membaca review film sebelum saya menontonnya. Jika bagus biar puas sekalian, jika tidak bagus biar sempurna umpatan saya. Haha.

Ketika saya akan menonton film ini, salah satu kawan saya yang telah menonton film ini berpesan, “jangan terlalu berekspektasi tinggi, ya.. Filmnya biasa saja,

Film Istirahatlah Kata-Kata yang telah saya tonton adalah gambaran dari penggalan kisah seorang penyair yang ditakuti Soeharto dan orde barunya, meski tubuhnya kurus kerempeng, selain penyair beliau juga adalah  salah satu seorang buruh demonstran pada masanya. Tak ayal jika nyawanya jadi incaran kekejaman rezim Orde Baru.

“Orde Baru itu brengsek, tapi takut sama kata-kata,” ujar Widji pada salah satu adegan film ini.

Nama lahirnya Widji Widodo, asli Solo. Setelah bergabung dengan teater jagat, baru kemudian ia memperoleh nama populer dari kawan-kawannya, yaitu Widji Thukul yang berarti biji yang tumbuh.

Salah satu ungkapan Widji yang sampai saat ini masih populer adalah kata: Lawan! Kata itu berasal dari pungkasan salah satu puisi Widji yang amat populer berjudul “Peringatan”. Puisi itu menggambarkan kekejian diri penguasa Orde Baru dengan gamblang dan terang.

Tetapi apa yang saya paparkan di atas, Widji Thukul dengan segala keheroikannya melawan Orde Baru tidakklah diceritakan dalam film yang saya tonton ini. Tidak ada di sana Widji digambarkan memimpin demo buruh, tak ada di sana Widji dengan gagahnya membacakan puisi di panggung-panggung mengkritik penguasa. Tidak, tidak ada dan tidak akan kita temukan di film ini.

Film Istirahatlah Kata-Kata garapan Yosep Anggi Noen ini bercerita tentang sepenggal kesunyian hidup Widji ketika menjadi buronan politik Orde Baru. Dari awal hingga akhir cerita, yang ditunjukkan oleh film ini adalah Widji sebagai manusia biasa, sebagai suami, dan sebagai bapak bagi dua anaknya. Tekanan mental yang disajikan di film ini, seperti menjadi buronan, amat apik ditayangkan. Lalu rasa takut akan kejaran tentara, intel dan antek Orde Baru lainnya, mewarnai kesunyian film ini.

Bagi saya yang gemar menonton film sunyi tanpa action, tanpa kegaduhan-kegaduhan adegan lainnya, memainkan dialog, dan ekspresi serta perasaan, Istirahatlah Kata-Kata adalah sebuah kemewahan. Berlatar tahun 1996, dua tahun sebelum Soharto jatuh, film ini, sekali lagi dengan apik menampilkan tekanan jiwa Widji ketika jadi buron dan harus melarikan diri, mencari aman ke Pontianak. Banyak sekali adegan yang menggambarkan gelap, sunyi dan kesendirian Widji dalam pelarian.

Gunawan Maryanto, pemeran Widji Thukul. (Foto: jurnalfootage.net)

Gunawan Maryanto, pemeran Widji Thukul. (Foto: jurnalfootage.net)

Gunawan Maryanto dengan sepenuh hati menjiwai betul perannya sebagai Widji Thukul, seorang penyair yang menginspirasinya, yang pernah ia temui sekali saja seumur hidupnya, Gunawan dengan epic menirukan kecadelan Widji yang tak bisa mengucap huruf  “r”. Begitu juga dengan Marissa Anita, dengan logat jawa yang lancar dan akting yang mumpuni, dia berhasil mengimbangi akting Gunawan sebagai istri Widji, yaitu Sipon. Saya suka cara mereka berdua mengumpat dengan bahasa jawa yang paripurna.

Saya amat tersentuh ketika harus ikut masuk ke dalam perasaan Widji sebagai buronan politik Orde Baru, seperti dalam tekanan, keterasingan, ketakutan dan kesunyian. Widji sebagai buronan politik Orde Baru, dalam tekanan, dalam keterasingan, dalam ketakutan dan dalam kesunyian. Widji saat itu harus mengambil jalan sunyi yang harus ia tempuh sendiri. Sebuah rezim busuk saking lamanya berkuasa, dengan mudah begitu saja melenyapkan nyawa seorang pejuang seperti Widji. Yang paling membuat saya gregetan adalah Widji bukan satu-satunya yang menjadi buronan, dan kemudian, hanya selang sebulan sebelum reformasi 98, dihilangkan oleh entah, yang jelas siapanya. Dan hingga saat ini belum bisa ditemukan jasadnya.

Sipon, istri Widji, berperan penting dalam film ini. Bagaimana ketika ditinggal Widji ia harus menghidupi kedua anaknya, Fitri dan Fajar. Hampir setiap hari rumahnya didatangi intel ataupun tentara, mengintrogasi, menyita buku atau apa saja yang dianggap mereka berbahaya. Menghadapi pelecehan verbal tetangga lelaki yang dialamatkan padanya. Dengan semua perlakuan tersebut yang ia dapatkan, Sipon tetap tegar.

Terdapat satu kekurangan dalam film ini yang saya rasakan, yaitu terletak pada skenario. Seharusnya film ini dapat merancang sebuah dialog dengan dahsyat dan kuat. Namun demikian, kekurangan tersebut diimbangi dengan kutipan-kutipan puisi Widji yang turut mewarnai dalam film ini. Salah satunya seperti kutipan ini,

Rumahku digeledah, buku-bukuku dirampas tapi aku berterima kasih karena kalian mengajarkan anak-anakku kewaspadaan dan makna penindasan sejak kecil.

Salah satu hal yang membuat saya suka pada sebuah film adalah film yang berakhir saat saya masih ingin menontonnya. Dialog emosional antara Widji dan Sipon di akhir cerita, sukses membuat saya ingin terus-menerus mengikuti kisahnya.

Aku ora pengin kowe lungo, tapi aku ya ora pengen kowe muleh, aku mung pengin kowe ono.” – Sipon. (mfa)