Jakarta, Parmagz – Agenda pertama Grha Mahardika Paramadina 2017 di hari ketiga ini adalah kumpul-kumpul singkat di Lapangan Basket Universitas Paramadina. Terlihat para peserta GMP 2017 hari ini menggenakan baju batik dan celana bahan gelap. Semangat para peserta GMP 2017 semakin dibakar setelah mereka menyanyikan yel-yel kelompok masing-masing.

Riuh rendah tepuk tangan bergema di Auditorium Nurcholis Madjid saat MC membuka acara talkshow pertama yang bertema “Entrepreneur Sebagai Solusi Bangsa” yang dinarasumberi oleh  Giring Nidji dan Robi Bagindo. Giring Nidji pun membuka talkshow dengan membagi singkat ceritanya tentang pengalaman enterpreneur-nya, begitupun Robi Bagindo juga bernostalgia masa-masa kuliahnya dulu di Paramadina, mencoba mendekatkan diri dengan teman-teman GMP 2017. Menurut Giring, ide-ide entrepreneur bisa didapatkan salah satunya dengan traveling, karena dengan traveling biasannya kita mendapatkan ide baru dari budaya atau keseharian di tempat lain. Lalu, bagaimana menyampaikan ide secara efektif?

Talkshow “Entrepreneur Sebagai Solusi Bangsa” oleh Giring Ganesha dan Robi Bagindo. (Foto: Rani Inggit Saputri)

 

“Saat ini menggunakan video merupakan langkah yang efektif untuk menyampaikan ide kepada masyarakat. Mudahnya mengakses Youtube atau Instagram harus digunakan dengan baik.” ujar Robi Bagindo.

Founder dan CEO Kincir.com, Giring Nidji, awalnya berniat untuk membangun platform dimana para artis, idola, dan public figure dapat me-manage dan memantau para fans mereka, namun seiring berjalannya waktu, platform ini ternyata tidak efektif digunakan oleh mereka, banyak yang lebih memilih Facebook, Twitter, maupun Instagram karena cakupannya yang lebih luas, hingga akhirnya kegagalan ide awal Kincir.com dijadikan oleh beliau sebagai pelajaran dan kini Kincir.com menjadi sebuah perusahan media seputar tips and trick yang berisi konten-konten yang menginspirasi untuk anak-anak muda laki-laki.

Pada talkshow kedua, mahasiswa diajak untuk menjadi bagian dari penjaga Pancasila dan pemersatu bangsa yang dibagikan oleh dua narasumber AKBP Dian Perri, SH, MH. (Kepala Sub Bidang Penyusunan dan Penyuluhan Hukum, Bidang Hukum) dan Dr. Benedictus B. Nurhadi, SH, M. Hum dari Komisi Kepolisian Nasional dengan tema “Mahasiswa dan Aparatur Negara”.

Dr. Benedictus B. Nurhadi berbagi sedikit sejarah ABRI di Indonesia kepada peserta GMP 2017. Kompolnas sebagai pengawas konstitusional bertugas untuk memberi masukan kepada Presiden untuk mengangkat/ memberhentikan KAPOLRI, juga memberikan masukan kepada Presiden untuk menyusun arah bidang polisi.

AKBP Dian Perri juga menyinggung perihal pentingnya sinergitas antara mahasiswa dan aparat negara karena mahasiswa dianggap sebagai tokoh yang paling krusial bagi sebuah negara. Maraknya isu agama dan penumbangan Pancasila juga sangat ditekankan kepada para peserta agar lebih berhati-hati dalam menerima berita maupun menyebarkannya.

Dalam rangkaian acara ketiga yang bernama Mimbar Kebebasan, para peserta diajak untuk lebih sensitif dan bebas berpendapat perihal isu yang kini marak digaungkan dan mencelakakan Pancasila. Dari Mimbar Kebebasan pula, para peserta GMP 2017 ditantang untuk dapat berpendapat secara bebas tanpa menyakiti hati orang lain dan juga belajar berargumen bedasarkan fakta yang valid.

“Kesan-kesannya di hari ke-3 GMP semakin ada peningkatan semangat, sangat seru sampai tidak terasa waktu berlalu dengan cepat. Selain mendapatkan teman-teman baru, saya juga mendapatkan ilmu baru dari rangkaian acara hari ini, yang sebelumnya tidak tahu, menjadi makin tahu. Bukan saya saja tapi seluruh teman-teman GMP 2017 pasti merasakan demikian.” ujar salah satu peserta GMP 2017, M. Iqbal Sabariansyah dari Prodi Ilmu Komunikasi.

Buku-buku Nurcholis Madjid dalam Museum Paramadina. (Foto: Laili Muttamimah)

Agenda yang tidak pernah tertinggal adalah Wiyata Mandala yaitu berkeliling kampus untuk mengenalkan beberapa ruangan penting ketika nanti peserta GMP 2017 berkuliah. Tidak lupa panitia menyiapkan Museum Cak Nur sebagai wadah peserta dapat lebih mengenal sosok yang telah mendirikan dan menggagas Paramadina. Lalu acara ditutup dengan agenda In Memoriam Cak Nur, menambah suasana sore menjelang malam menjadi lebih sakral. (ris)