Bukan Paramadina jika tidak bisa memberi gebrakan baru di dunia akademis maupun non-akademis. Berbagai prestasi tingkat lokal maupun internasional dengan mudah diraih, bahkan aksi sosial yang murni atas dasar kemanusiaan hingga aksi turun ke jalan tidak terlewatkan oleh masyarakat Paramadina. Memang tidak dilakukan oleh semua, hanya sebagaian, karena kadar kepekaan memang tidak bisa disamaratakan.

Demi mencapai totalitas dalam proses belajar mengajar Paramadina terus berusaha untuk melakukan perbaikan, berbagai rencana pembaruan dan pembangunan terus bergulir. Mulai dari perubahan sistem pencairan dana kemahasiswaan, sistem jam operasional kampus, hingga wacana untuk  pembangunan kampus baru telah disuarakan. Tentunya keputusan ini ada dengan berdasar pada beberapa pertimbangan. Alasan-alasan yang mendasari perubahan tersebutpun terus berganti, entah karena belum dimulai atau memang ada kebijakan lain yang menjadikan keputusan tersebut berjalan dinamis. Alasan yang masuk akal selalu diberikan sebagai pembelaan agar dirasa memang perlu untuk dilakukan perubahan.

Seperti yang disampaikan Rektor Universitas Paramadina pada pertemuannya dengan Dewan Pimpinan OKUP bulan lalu, Prof. Firmansyah menjelaskan bahwa Paramadina akan segera melakukan pembangunan kampus baru di daerah Tendean. Tepatnya sebelah barat gedung TransTV, di mana terletak lahan perumahan dinas dan lapangan milik Bank Mandiri. Nantinya daerah tersebut akan menjadi ekspansi dari gedung kampus yang sudah ada sekarang. Hal ini masih berhubungan karena memang lokasi kampus S1 Paramadina sekarang masih berstatus sewa kepada Bank Mandiri. Rencana ini berubah dari kabar terakhir yang beredar sudah ada peletakan batu di daerah BSD Serpong, namun berarti hal tersebut dibatalkan. Selain BSD, beberapa titik lokasi seperti Cawang, TB Simatupang, Sawangan, dan Cilangkap sempat menjadi titik tujuan pembangunan kampus baru Universitas Paramadina.

Selain hal tersebut, sistem pencairan dana kemahasiswaan akhir-akhir ini beranak pinak menjadi berbagai larangan dan himbauan. Begitu juga dengan berlakunya jam operasional kampus yang mewacanakan bahwa kampus akan ditutup pada pukul 23.00 belum juga resmi di publikasikan oleh pihak kampus. Keberadaan dari kebijakan-kebijakan tersebut hanya beredar dari mulut kemulut. Lebih baik bila ada penegasan kebijakan dengan tinta hitam di atas putih agar tidak menimbulkan ambiguitas.

Sebenarnya apa yang menjadi keraguan hingga banyaknya perubahan yang dirasa sangat dinamis terjadi di internal kampus, dinamis di sini dapat diartikan ketika seluruh masyarakat kampus belum sampai mengerti dan menerapkan kebijakan baru, namun kebijakan itu sudah berubah lagi. Hingga pada akhirnya timbul pemikiran bahwa kebijakan yang diberikan kampus adalah kebijakan yang fleksibel.

Tentunya semua kebijakan akan berdampak pada setiap proses yang terjadi di Paramadina, terlebih masyarakat Paramadina tidak diragukan lagi keaktifannya.  tak hanya menghidupi kampus, kegiatan di luar kampus pun banyak ditunggangi oleh rekan-rekan dari Paramadina. Keaktifan yang sudah membudaya ini tentunya punya efek samping. Dengan banyaknya kegiatan di luar maupun di dalam kampus tentunya akan membagi fokus kerja dalam tiap prosesnya. Tak hanya dialami mahasiswa, mungkin juga hal ini terjadi pada seluruh civitas akademika kampus termasuk dosen dan staf. Sehingga bisa jadi karena asik aktif menghidupi komunitas, menjalankan projek, acara, maupun agenda di luar kampus, menjadikan tanggungjawab internal kampus bukan lagi menjadi prioritas.

Bagaimanapun masyarakat Paramadina sedang berproses, namun dalam prosesny sepertinya Paramadina butuh ketegasan. Dinamis memang mutlak adanya, maka tidak seharusnya menghindari perubahan, berubah adalah hasil dari sebuah proses, terlepas hasilnya menyatakan berubah untuk menjadi lebih baik atau malah sebaliknya. Ada baiknya bila kedinamisan tersebut diimbangi dengan perhitungan dan persiapan yang matang, sebisa mungkin tidak merugikan orang lain dan bukan tidak mungkin untuk tidak memikirkan diri sendiri. (usa)