Jakarta, Parmagz – Terkait dengan kecemasan OKUP (Organisasi Kemahasiswaan Universitas Paramadina) akibat besaran dana kemahasiswaan yang “terjun bebas”, atas inisiasi dari Raizus Zaman selaku Sekretaris Jendral SEMA, Senin (18/6) Bima Priya Santosa, Ak. BAP, MFM, Totok Amien Soefijanto, Ed.D, dan Leonita K. Syarief, M.Si dilakukan audiensi yang dihadiri sejumlah anggota Dewan SEMA dan perwakilan OKUP guna mengklarifikasi permasalahan tersebut. Sebelumnya, telah diadakan pula audiensi yang dihadiri oleh Prof. Firmanzah, Ph.D (Fiz) selaku rektor Universitas Paramadina membahas hal serupa, tetapi rupanya belum ada kejelasan yang didapatkan oleh OKUP seputar dana kemahasiswaan.

“Pada audiensi sebelumnya bersama Pak Fiz, beliau mengatakan bahwa dana OKUP tetap sekian tetapi uang pelatih tidak termasuk dalam dana 1,3 juta tersebut. Kemudian kalau ada kompetisi yang mewakili universitas itu dananya akan dari DPM sendiri,” jelas Leonita selaku Direktur Pengembangan Mahasiswa (DPM).

Universitas Paramadina berada di bawah Yayasan Wakaf Paramadina, yang mana 80% kegiatan wakaf adalah untuk universitas dan sisanya adalah kegiatan kajian keagamaan, badan zakat dan amal, dan lain sebagainya. Jika dilihat dari sisi anggaran, semua dana yang masuk akan masuk ke rekening yayasan terlebih dahulu. Kemudian selanjutnya universitas akan mengajukan anggaran tiap tahunnya.

“Dalam eksekusinya nanti kita akan ajukan ke yayasan tiap bulan. Setiap bulan saya akan lapor bulan lalu saya pakai uang untuk apa ke yayasan, yayasan akan approve kemudian mereka transfer ke rekening operasional universitas. Sampai akhir tahun, kita akan laporkan dalam satu tahun itu pengeluaran kita sekian dan pemasukan kita sekian. Nah, terkait dengan alokasinya, kewenangannya akan diberikan ke universitas,” jelas Bima selaku Deputi Rektor Bid. Administrasi, Operational, dan Keuangan.

Bima mengaku sedih karena harus memotong dana kegiatan mahasiswa. Beliau menyatakan bahwa sebagai universitas swasta yang tidak mendapatkan bantuan dana apapun dari pemerintah, Universitas Paramadina harus menyesuaikan dengan proyeksi penerimaan anggaran. Di tahun 2017, anggaran dana yang diajukan sebesar 344 juta rupiah yang mana dana tersebut turun hampir setengah jika dibandingkan dengan tahun 2016 lalu yaitu 581 juta rupiah.

(Kiri ke kanan) Totok Amien Soefijanto, Ed.D, Leonita K. Syarief, M.Si, dan Bima Priya Santosa, Ak. BAP, MFM saat melakukan audiensi penuruan dana OKUP pada Senin (18/6) di ruang Granada.

(Kiri ke kanan) Totok Amien Soefijanto, Ed.D, Leonita K. Syarief, M.Si, dan Bima Priya Santosa, Ak. BAP, MFM saat melakukan audiensi penuruan dana OKUP pada Senin (18/6) di ruang Granada.

“Semua organisasi gitu juga. Memang ada fluktuasi ya wajar-wajar aja. Artinya kita harus menyesuaikan kegiatan kita dengan proyeksi penerimaan,” ungkap Bima.

“Universitas itu ibarat bisnis maskapai. Yang namanya pesawat itu kan punya jadwal, mau penumpangnya lima dia harus tetap berangkat, tidak mungkin dia akan bawa afturnya hanya separuh, pasti penuh mau penumpangnnya lima atau seratus. Sama seperti universitas, kalau sudah masuk semeser, kita harus terbang, mau mahasiswanya lima atau seratus, kan gak mungkin gaji dosen saya bayar separuh atau AC saya kurangin separuh ruangan gak pakai AC,” tambahnya.

Rupanya, bukan hanya OKUP yang kalang kabut, kampus juga merasakan hal yang serupa akibat menurunnya jumlah penerimaan mahasiswa di tahun 2016 lalu. Bima menjelaskan bahwa dalam hal ini ada yang dinamakan prioritas atau dalam istilah keuangan dinamakan fix cost, yang mana fix cost seperti kegiatan akademik, fasilitas perkuliahan seperti AC, WiFi dan listrik merupakan dana yang terlebih dahulu harus terpenuhi. Kemudian sisanya akan dapat dialokasikan untuk variable cost seperti kegiatan kemahasiswaan.

“Jadi kalau ditanya kenapa turun, yaitu jawaban saya. Dalam operasional universitas itu prioritas seperti kegiatan perkuliahan harus jalan, baru kegiatan-kegiatan yang bersifat variable. Jangan disalah artikan bahwa kegiatan kalian nggak penting. Setidaknya kami memikirkan bahwa barang yang sudah pasti harus ada itu bisa terpenuhi, misalnya bayar pelatih. Semua harus tetap jalan jangan sampai ada yang jatuh,” jelas Bima.

Bima mengaku bangga kepada organisasi yang mampu mendapatkan sumber dana lain di luar kampus. Bahkan Totok selaku Deputi Rektor Bid. Akademik, Riset, dan Kemahasiswaan pun mengungkapkan rasa kecewanya terhadap goyahnya semangat organisasi mahasiswa hanya karena disebabkan oleh turunnya dana kegiatan.

“Padahal kalian harusnya bangga terhadap diri kalian sendiri jika kalian mampu mandiri,” ungkap Totok.

Mengingat bahwa Universitas Paramadina menggunakan sistem poin sebagai syarat kelulusan yang berarti bahwa mahasiswa diharapkan aktif berkegiatan menjadikan turunnya dana kemahasiswaan semakin menimbulkan kecemasan para OKUP. Krisis ini membuat sejumlah OKUP memilih mencari jalur alternatif dengan merubah rancangan kerja mereka dengan menyesuaikan dana yang ada, bahkan beberapa memilih untuk tidak menyelenggarakan sebagian kegiatan.

Tetapi Leonita menegaskan bahwa krisis ini hanya baru terjadi pada tahun ini dan seharusnya poin tidak menjadi sebuah kekhawatiran mengingat bahwa penghitungan poin merupakan hasil akumulasi selama mahasiswa kuliah di Universitas Paramadina, yaitu sejak mulai masuk hingga wisuda.

Seperti yang telah diketahui bahwa pada periode kali ini, dana OKUP turun drastis menjadi 1,3 juta rupiah selama satu periode dibandingkan tahun lalu yang mampu mencapai 9 juta rupiah. Angka tersebut membuat para anggota OKUP kaget dan masih menjadi kecemasan hingga saat ini. Merupakan tantangan baru bagi para petinggi OKUP dalam menghadapi krisis tersebut.

“Catatan ini tentu jadi masukan bagi saya, kalau kita lebih dari alokasi yang telah diberikan oleh yayasan saya harus lapor lagi ke yayasan. Seperti negara kan ada yang namanya APBN perubahan. Nanti yang akan merubah ya yayasan,” ungkap Bima.

“Saya paham dengan maksud kalian. Tetapi kalian juga harus paham apa yang sedang dialami oleh universitas. Tadi kan saya sudah jelaskan bagaimana kondisinya bahwa ada fix cost yang harus ditutupi terlebih dahulu. Jadi mau nggak mau harus disesuaikan. Nggak hanya kegiatan mahasiswa tetapi semuanya. Jadi ini akan saya catat dan akan saya diskusikan lagi kerena otoritas bukan hanya di saya,” tutup Bima. (yus)