Judul: Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

Pengarang: Puthut EA

Penerbit: Buku Mojok

Cetakan: Februari, 2016

Tebal: 263 halaman

 

Puthut EA mengawali kisah dalam novel debutnya ini dengan pertemuan tokoh utama –yang sampai akhir cerita tidak disebutkan namanya, selanjutnya sebut saja ia: sang lelaki— dengan kekasih yang telah meninggalkannya pergi, dan menikah dengan lelaki lain karena desakan orang tuanya.

Sebab pertemuan singkat itulah luka sang lelaki yang sejatinya hampir mengering, kembali terkorek dalam-dalam dan membuatnya semakin tak bisa menanggalkan kenangannya. “Aku telah mencintai seorang perempuan, dan dia meninggalkanku. Satu-satunya kesalahanku adalah karena aku terlalu mencintai perempuan itu, dan aku tidak bisa mencintai yang lain lagi.” (Hal. 18)

Meski ibu sang lelaki beserta seluruh anggota keluarganya telah bersikeras untuk memintanya agar segera menikah, sampai-sampai memilihkan calon seorang perempuan dokter muda untuknya, ia tetap belum bisa untuk kembali menjalin hubungan cinta, apalagi menikah.

Sang lelaki kemudian mencoba mengobati luka lamanya dengan belajar mencintai beberapa gadis lain dengan jalan dan cara yang tak terduga-duga, tetapi luka masa lalu masih mengekang ingatannya, sampai-sampai ada seorang gadis yang mengatakan padanya, “Mengapa kebanyakan laki-laki terlalu kekanak-kanakan dalam menghadapi masa lalu mereka, ya?” (Hal. 22). Dan pada akhirnya sang lelaki berkesimpulan bahwa cinta adalah omong kosong belaka. (Hal. 43)

Di tengah-tengah cerita sendu dengan alur kisah maju-mundur yang berhasil menyedot pembaca pada perjalanan hidup sang lelaki tokoh utama ini, penulis berhasil menyelipkan cerita yang membuat pembaca mengumpat sambil tertawa. Dalam bab ke-6, sang lelaki tiba-tiba dikisahkan menemukan kembali cinta sejatinya, seorang gadis cerdas, cantik dan bisa mengimbangi jalan pikirannya, Kikan namanya. Mereka kemudian menikah, membangun rumah tangga dan hidup bahagia. Namun setelah sekian lama menikah, keduanya belum juga dikaruniai anak.

Sampai di situ, setelah pembaca bernapas bahagia karena problem sang lelaki sudah mulai terpecahkan, namun ternyata penggalan kisah tersebut hanyalah bunga tidur dari sang lelaki yang berprofesi sebagai penulis itu dalam tidurnya sesaat sebelum ia menigisi sebuah acara workshop kepenulisan. Sial betul memang Puthut EA.

Sang lelaki beberapa kali mencoba untuk kembali menjalin hubungan dengan beberapa perempuan, namun ia tetap gagal karena belum bisa benar-benar sembuh dari lukanya. Suatu senja luka yang masih basah itu kembali harus tergores, kekasih sang lelaki yang telah meninggalkannya itu tiba-tiba menelpon, ia awalnya berpikir untuk tidak mengangkat telepon itu, sampai dering berakhir ia tetap tidak mengangkatnya. Namun telepon berdering untuk kedua kalinya, sang lelaki memberanikan diri untuk menekan tombol hijau pada ponselnya.

Pada percakapan sore itulah sang kekasih yang sudah menikah dan memiliki anak itu menyatakan masih ada sesuatu yang mengganjal dari masa lalunya dan perlu diselesaikan. Perempuan itu ternyata selama ini masih juga mencintai sang lelaki, tetapi dia sadar sudah melangkah terlalu jauh dalam hidupnya, kedewasaan dan pengalaman hidup membawa perempuan itu untuk menyatakan kepadanya dengan linangan air mata, tentu saja, bahwa bagaimanapun, “Aku sudah punya kehidupan nyata. Aku akan mencintaimu dengan cara yang paling sunyi.” (Hal. 137). Sang lelaki semakin hancur.

Di samping memiliki kenangan masa lalu yang menyakitkan dan beberapa kebiasaan unik, sang lelaki juga mengidap penyakit mudah depresi dan susah tidur, ia harus bergantung pada obat-obatan tertentu untuk bisa meredakan penyakitnya itu. Dulu, di kala keadaan kritis menimpa sang lelaki, kekasih yang meninggalkannyanya itulah yang selalu menemani. Momen itu sangat terkenang dalam benaknya, dan menjadi bagian paling sukar dilupakan diantara berkas kenang-kenangan dalam almari ingatannya.

Kisah ini ditutup dengan apik dan mampu membawa pembaca untuk ikut tenggelam bersama. Pungkasan kisah yang semakin mengukuhkan bahwa cinta yang dialami oleh sang lelaki –bisa jadi kita sendiri— benar-benar tak pernah tepat waktu, dan kita harus siap menerimanya dengan belajar mencintai seseorang dengan cara yang paling sunyi.

Di sisi lain, lewat sang lelaki tokoh utama novel ini, kita diajak untuk mencoba memberi harga pada setiap peristiwa (Hal. 246). Kisah ini juga memberikan makna lain kepada pembaca tentang arti cinta, luka, kenangan dan bahagia. Buku setebal dua ratus enam puluh tiga halaman ini berhasil mengajak pembacanya untuk mensyukuri apapun yang terjadi, dan hidup acapkali bukan soal apa yang kita inginkan, tetapi tentang apa yang kita miliki. Sebuah kisah yang mengajarkan bahwa bagaimanapun kisahnya, hidup selalu layak untuk dijalani. Selamat membaca! (mfa)