nurcholish-madjid-guru-bangsa

Prof. Dr. Nurcholish Madjid atau populer dipanggil Cak Nur, merupakan salah seorang pemikir Islam, cendekiawan sekaligus sebagai budayawan Indonesia. Pada zaman reformasi beliau begitu banyak berjasa kepada bangsa ini. Ketika posisi Indonesia sedang dilanda krisis kepemimpinan pada tahun 1998. Cak Nur sering diminta untuk menjadi penasihat oleh Presiden Soeharto terutama dalam mengatasi gejolak pasca kerusuhan Mei 1998 di Jakarta setelah Indonesia dilanda krisis hebat yang berimbas sampai pada tahun 1997.

Cak Nur memiliki gagasan-gagasan yang sangat cemerlang, salah satu gagasannya yang paling masyhur adalah islam kemoderenan dan keindonesiaan. Dari gagasan-gagasan ini, banyak mayarakat yang memahami akan arti dari pemikiran Cak Nur mengenai pembaharuan bagi bangsa Indonesia untuk kemajuannya, khususnya mengenai peranan agama di Indonesia.  (baca, islam kemoderenan dan keindonesiaan)

Di dalam buku yang beliau tulis sebagaimana dikatakan di atas, ada tema yang membahas mengenai Peranan Agama dalam kehidupan Modern-industrial. Beliau mengatakan, berbicara mengenai agama memerlukan suatu sikap ekstra hati-hati. Sebab, sekalipun agama merupakan persoalan social, penghayatannya amat bersifat individual. Apa yang dipahami, apalagi yang dihayati, sebagai agama oleh seseorang amat banyak bergantung pada keseluruhan latar belakang dan kepribadiannya. Oleh karena itu, agama senantiasa bersangkutan dengan efek emosional.

Pada dasarnya tidak ada perbedaan antara agama modern dengan yang primitif. Sebab, agama merupakan kecendrungan untuk pemenuhan yang secara alamiyahnya bagi diri sendiri. Juga bisa dikatakan dengan rasa kesucian.

Ketika membicarakan peranan agama dalam kehidupan modern, seringkali dihubungkan dengan konotasi modernitas yang disebut ekses. Ekses adalah akibat dominasi iptek. Kepetingan iptek ialah objektivitas. Dengan sendirinya objektivisme itu akan sering berbenturan dengan subjektivisme, sehingga mengakibatkan ketidaksanggupan seseorang mengenali dirinya sendiri serta makna hidupnya, sehingga manusia akan mengalami keterasingan (alienation) pada dirinya sendiri. Demikianlah kehidupan yang wajar sangat memerlukan keseimbangan diantara keduanya, yaitu profane dan aspek sacral. Oleh karena itu ada indikasi-indikasi yang menyebutkan bahwa ada dua macam yang saling berlawanan, yaitu negatif dan positif. Yang negatif adalah masalah penyakit jiwa yang banyak diderita oleh masyarakat modern (kota) ketimbang masyarakat yang sederhana (desa). Sedangkan yang positif, yaitu semakin tertariknya orang-orang modern (kota) kepada pemikiran yang spekulatif.

Lalu, apa hubungannya kehidupan modern dengan agama? Dan apakah agama mampu menjadi sumber inspirasi serta mempunyai konsep bagi suatu pola pembangunan yang dapat dijadikan alternatif bagi pembangunan sekarang? Justru sangatlah erat hubungan antara keduanya, karena jika hilangnya agama didalam kehidupan modern, maka hilang pula keseimbangan pada setiap kehidupan. (Husni)