Aku rindu teman-teman SMA-ku. Sejak lulus sekolah, aku belum sempat ketemu mereka, lebih tepat dibilang menghindar sih, karena memang aku sedang fokus dan sibuk-sibuknya beradaptasi dengan dunia perkuliahan. Sebelumnya aku sama sekali tidak tahu, ternyata kuliah itu tugasnya banyak sekali!

Tapi sekarang aku malah merasa menyesal karena selalu menolak ketika mereka meminta aku untuk ikut bermain atau sekadar nongkrong bersama, dan sekarang aku dan temen-teman dekatku itu benar-benar tidak pernah ngobrol sama sekali. Apa mungkin mereka marah padaku ya? Ah, daripada bertanya-tanya lebih baik aku langsung chat mereka saja.

Aku beranjak dari kasur dan menghampiri meja yang tidak jauh letaknya dari kasurku. Aku langsung bergegas mengirim pesan lewat WhatsApp, aku chat satu persatu, Vivi, Nira dan Mila.

“Hei, Vii.. Apa kabar? Kangen deh, hehe.”

Aku juga mengirim pesan yang sama kepada Nira dan Mila. Aku menunggu cukup lama sampai mereka membalas pesanku. Awalnya aku sempat sedih karena sepertinya mereka sengaja mengabaikan pesan dariku, namun aku sadar juga, selama ini aku sering mengabaikan pesan dari mereka, jadi wajar kalau mereka marah.

Drrttt..

Hapeku bergetar, aku langsung bergegas mengeceknya dengan penasaran, daan, ya.. Ternyata itu pesan dari vivi! Yah walaupun baru Vivi saja yang membalas tapi sudah luymayan lega.

“Hey Meiii, gue baik kok, lo gimana? Sama ih kangen juga ke mana ajaa, ketemu yuuk,”

Aku sangat merasa bersalah karena selalu menghindar dari Vivi dan yang lainnya belakangan ini. Aku langsung membalas pesannya secepat kilat.

“Hehee sama gue juga baik kok, iya nih gue belakangan agak sibuk, banyak banget tugas kampus Vi, yuuk mau ketemu di mana? Ajak yang lain juga yuuk,” balasku.

Drrttt..

Hapeku bergetar lagi, aku langsung bergegas membuka pesan yang masuk.

“Kita aja dulu yuuk yang ketemu, yang lain nyusul aja, hahaha, kan kita berdua lebih deket dari mereka berdua, nanti mereka nyusul aja next time. Kita ketemu di kafe Ahay yaa besok? Agak siangan ajaa lo bisa ga?” katanya penuh semangat.

Aku sempat bingung saat dia bilang “kita lebih dekat”, jujur saja aku sih merasa dekat dengan mereka semua, tapi ya sudahlah, toh dia bilang yang lain juga bakal nyusul, lagipula besok juga aku nggak ada kelas dan kebetulan kafe Ahay tidak jauh dari rumahku.

Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..

Tiba-tiba mereka bertiga membalas pesanku secara bersamaan, aku sangat senang mereka tidak mengabaikanku. Aku membuka pesan dari Vivi terlebih dahulu, “Okee,” balasku singkat. Lalu aku langsung bergegas membuka pesan dari Nira.

“Hey Meei gue baik, lo apa kabar? Sama gue juga kangen,” katanya.

Aku langsung membalas pesannya, isinya nggak jauh beda sih sama balasanku ke Vivi, tapi aku nggak mengajak Nira ketemu karena Vivi bilang, kita berdua aja yang ketemu lebih dulu. Begitu juga juga dengan pesan yang kukirim ke Mila. Setelah merasa lega karena mereka udah bales pesanku, aku langsung melanjutkan mengerjakan tugas kuliahku, karena kupikir beberapa hari ke depan aku akan menghabiskan waktuku untuk bertemu dan bermain dengan mereka.

Aku benar-benar kesiangan esok harinya, ini sudah jam 12 siang dan aku baru bangun, semalam aku keasyikan mengerjakan tugas dan baru tidur sekitar jam 3 pagi. Setelah selesai mengerjakan tugas aku malah asyik ngobrol dengan Nira dan Mila. Aku sempat mengirim pesan ke Vivi, tapi dia tidak membaca sama sekali pesanku, aku sedikit bingung, apa dia marah padaku ya, atau dia sibuk atau bagaimana sih.

Akhirnya, aku mengirim pesan singkat soal rencana kita hari ini, dan aku langsung bergegas mandi lalu siap-siap. Saat sedang rapi-rapi, hapeku bergetar, ternyata itu pesan dari Vivi!

“Hey maaf ya gue ga sempet bales pesan lo, kemarin agak sibuk, oh iya, gue udah otw ke kafe Ahay nih,” katanya.

Perjalanan ke kafe Ahay hanya memakan waktu sekitar 15 menit dari rumahku, apalagi siang-siang seperti ini, jalanan Jakarta sangat sepi, tapi memang panasnya menyengat sekali sampai membuat kepalaku pusing. Setelah sampai aku langsung menghampiri meja yang telah dipesan Vivi.

“Heey Vii.. Kangeeen,” teriakku. Ia langsung memelukku. Kami duduk dan memesan makanan, kami terlarut dalam obrolan panjang yang seru, aku benar-benar senang sekali bisa ketemu dengan teman SMA-ku lagi. Coba saja kalau ada Nira dan Mila, pasti akan lebih seru.

Obrolan kami terus berlanjut, namun di sela-sela obrolan kami aku merasa Vivi bertingkah sedikit aneh, beberapa kali ia mencubitku, aku tau memang ketika gemas, ia selalu mencubit orang di dekatnya, baik itu pipi atau tangan. Tapi yang ini beda! Aku hitung dia sudah 10 kali lebih mencubitku, meskipun yang kami obrolin bukan soal hal-hal yang lucu atau menggemaskan.

Semakin lama ia semakin sering mencubitku dan cubitannya itu lama-lama makin kencang, aku beberapa kali menegur dan menyuruhnya untuk tidak mencubitku lagi, tapi dia mengabaikanku. Beberapa menit selanjutnya bukan hanya mencubit, tapi dia sudah mulai menggigit tanganku, aku merasa makin aneh, bahkan Vivi menggigit pipiku dengan sangat keras saat aku lengah.

Karena sudah tidak tahan lagi akhirnya aku membentaknya.

“Vivi berenti gigitin dan nyubitin gue, sakit tau! Kalo emang gemes boleh aja, tapi jangan keterlaluan dong!” bentakku.

Ia sangat terkejut dan sempat bengong sesaat, begitu juga orang-orang di sekitarku, mereka memandang bingung karena teriakanku di depan umum tanpa tahu malu. Mau bagaimana lagi jika tidak kumarahi dia tidak akan berhenti. Setelah memarahinya aku langsung mengambil tasku dan bergegas pulang dan meninggalkannya sendirian di sana.

Selama perjalanan pulang aku sedikit merasa bersalah karena membentak dan meninggalkannya begitu saja, aku ingin sekali menceritakan hal ini kepada Nira dan Mila. Tapi aku takut malah jika terkesan seperti aku membuka aib Vivi, jadi aku memutuskan untuk diam saja. Aku pulang dengan taksi, aku turun di jalan yang sudah tidak jauh dari rumah. Aku harus langsung mengobati memar yang ada pada wajah dan tanganku. Setelah membeli obat di apotek terdekat, aku langsung berjalan pulang.

Namun aku merasa ada yang aneh, seperti ada yang memperhatikanku dari jauh dan diam-diam ada yang mengikutiku. Gang di dekat rumahku memang sangat sepi, jarang ada motor yang lewat, bahkan pejalan kaki pun sangat jarang. Karena sangat ketakutan, aku mulai mempercepat langkah, namun orang yang mengikutiku berjalan lebih cepat.

Aku benar-benar bingung dan ketakutan apa yang harus kulakukan, aku sama sekali tidak berani menoleh ke belakang. Tapi, pikirku, jika aku belari ke rumah, orang itu malah akan tahu di mana rumahku, apalagi di rumah hanya ada aku sendiri. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Selama berlari kecil aku terus memikirkan apa yang harus kulakukan. Akhirnya, aku tahu! Sebaiknya aku mampir saja di warung Bu Neni dekat rumah.

Sampai di warung aku langsung membeli minum, Bu Neni si pemilik warung kebingungan karena aku terengah-engah seperti habis dikejar anjing. Ia pun bertanya heran, “Kamu kenapa Mei?” tanya nya.

“Itu bu, masa tadi ada yang sengaja ngikuti saya, saya takut bu, boleh kan ya bu saya tunggu dulu di sini sebentar, kalau langsung pulang, takutnya dia malah tau rumah saya, soalnya kan saya sendirian di rumah bu,” jawabku terengah-engah.

“Kok bisa? Yaudah gapa kamu disini aja dulu, daripada nanti kamu kalo pulang malah kenapa-napa, kalo gitu ibu disini aja deh temenin kamu ngobrol,” ucapnya sambil menenangkanku.

Selama mengobrol dengan bu Neni aku terus memperhatikan jalan sekitar, meskipun dia sudah tidak mengikutiku lagi tapi aku merasa dia memperhatikanku terus dari kejauhan. Di mana dia sekarang ya, aku harus mencari tahu siapa dia. Tunggu dulu sepertinya aku melihat seseorang yang berdiri di gapura gang rumahku, dia beberapa kali menampakkan wajahnya namun setiap kali aku menoleh kearahnya, dia langsung bersembunyi. Jika aku perhatikan sepertinya ia perempuan. Setelah kulihat-lihat, benar… dia ternyata perempuan. Eh eh, tunggu dulu, sepertinya aku mengenalnya, dia itukan… Vivi!

Hah! Sedang apa dia di sana memperhatikanku diam-diam, aneh sekali. Jangan-jangan dialah yang mengikutiku dari tadi, tapi kenapa? Apa jangan-jangan dia takut jika aku marah padanya? Tapi kenapa? Bukannya langsung minta maaf itu lebih baik daripada membuatku malah ketakutan seperti ini.

Karena keasyikan ngobrol dengan bu Neni, aku juga tidak enak memotong pembicaraannya untuk menemui Vivi aku jadi lupa dengannya. Namun anehnya dia sudah tidak ada di sana, dia sudah pergi! Karena sudah merasa lega aku langsung pulang ke rumah. Aku juga sudah lelah mendengar bu Neni ngomong.

Ketika sudah sampai rumah tanpa pikir panjang aku langsung menelfon Nira. Aku langsung memberi tahu soal kejadian aku dengan Vivi hari ini, aku menceritakan semuanya sedetail-detailnya. Namun anehnya reaksi Nira tidak kaget sama sekali ia seperti sudah biasa mendengar hal ini. Setelah lama bercerita dia hanya mendengarkan dan kemudian dia hanya berkata, “Harusnya lo bilang dulu sama kita kalo mau ketemu Vivi. Kalo udah kayak gini gue jadi bingung harus gimana, lo tuh hati-hati sama dia, dia itu udah gila, bahkan gue sama Mila gapernah mau lagi ketemu sama dia,” paparnya. Setelah itu ia menyuruhku untuk bertemu dengannya dan Mila untuk membantuku mengahadapi Vivi.

Aku benar-benar bingung sebenarnya apa yang sudah kulewatkan selama ini, Vivi dulu normal-normal saja dan aku juga tahu dia memang sangat suka mencubit orang jika sedang gemas, tapi apa yang terjadi sekarang? Kenapa Nira bilang dia sudah gila? Tapi keadaannya tidak terlihat seperti orang gila sama sekali. Tapi memang sih tingkah dia aneh, menggigitiku, lalu mengikutiku diam-diam. Itu memang gila sih. Muncul banyak sekali pertanyaan di benakku. Ah sudahlah, daripada terus memikirkannya lebih baik aku langsung tanya Nira dan Mila saja besok.

Bersambung…

 

(zsa/mfa)